Indeks Panas Bangkok Tembus 51,9°C, Pemerintah Buka Ruang Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Indeks panas di Bangkok mencapai level 'Berbahaya' pada 51,9°C, memicu imbauan mengurangi aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00–15.00.
- Pemerintah Thailand mengidentifikasi delapan kelompok rentan dan menyediakan ruang pendingin darurat di seluruh kota.
- Fenomena ini menjadi peringatan bagi Indonesia yang kerap mengalami suhu ekstrem serupa, terutama di kota-kota padat penduduk.

Indeks panas di Bangkok menembus angka 51,9 derajat Celsius pada Kamis (25/6/2026), level yang masuk kategori 'Berbahaya' dan meningkatkan risiko sengatan panas (heatstroke) secara signifikan. Pemerintah Thailand melalui Departemen Lingkungan dan Badan Meteorologi setempat langsung mengaktifkan langkah darurat, termasuk membuka ruang pendingin di berbagai titik kota.
Angka tersebut bukanlah suhu udara aktual, melainkan suhu yang dirasakan tubuh (feels like) yang dihitung dari kombinasi suhu udara dan kelembaban relatif. Semakin tinggi kelembaban, semakin sulit tubuh mengeluarkan keringat, sehingga beban panas yang dirasakan meningkat drastis. Pada level ini, aktivitas di luar ruangan sangat tidak disarankan, terutama antara pukul 11.00 hingga 15.00.
Pemerintah Thailand telah membagi level indeks panas menjadi empat tingkatan dengan rekomendasi spesifik. Pada level 'Waspada' (27–32,9°C), masyarakat diminta mengikuti berita peringatan panas. Level 'Peringatan' (33–41,9°C) menyarankan pengurangan aktivitas luar ruangan. Level 'Berbahaya' (42–51,9°C) seperti saat ini mewajibkan pemantauan gejala diri sendiri, sedangkan level 'Sangat Berbahaya' (≥52°C) melarang total aktivitas di luar ruangan.
Gejala awal gangguan panas meliputi kelelahan, pusing, ruam, kulit merah dan bengkak, serta kram otot. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heatstroke yang fatal. Kelompok paling rentan adalah lansia di atas 60 tahun, penderita penyakit bawaan, serta pekerja luar ruangan seperti pengemudi ojek, kurir, dan buruh bangunan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gelombang panas. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya kerap mencatat indeks panas tinggi, terutama saat musim kemarau. Belum ada sistem peringatan serupa yang terintegrasi di Indonesia, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan suhu ekstrem secara berkala.
Pemerintah Thailand juga menyediakan aplikasi AIR BKK dan akun LINE untuk pemantauan real-time, serta hotline darurat 1669 untuk kasus heatstroke. Langkah ini menunjukkan pentingnya infrastruktur digital dalam mitigasi bencana iklim. Ke depan, adopsi sistem serupa di Indonesia dapat menjadi pertimbangan, terutama dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.



