Musim Panas Jepang Diprediksi Lebih Panas: Pakar Ungkap Cara Efektif Cegah Heatstroke
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Jepang memproyeksikan suhu Juni–Agustus 2026 di atas normal, meningkatkan risiko sengatan panas.
- Lebih dari 100.000 orang di Jepang dirawat karena heatstroke pada 2025, dengan hampir 60% korban berusia 65 tahun ke atas.
- Pakar menyarankan pendinginan di telapak tangan, kaki, dan pipi, serta konsumsi es slurry, sebagai strategi mendinginkan tubuh secara efektif.

Jepang bersiap menghadapi musim panas yang lebih ekstrem dari biasanya, dengan proyeksi suhu di atas rata-rata nasional dari Juni hingga Agustus 2026. Pakar fisiologi olahraga dari Universitas Hiroshima, Hiroshi Hasegawa, mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan risiko heatstroke dan mulai menerapkan langkah pencegahan sejak dini.
Data Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 orang dilarikan ke rumah sakit akibat sengatan panas pada periode Mei hingga September 2025. Pada pekan terakhir Mei 2026 saja, tercatat 1.422 kasus, dengan hampir 60 persen korban berusia 65 tahun ke atas. Angka ini menegaskan bahwa kelompok lansia menjadi yang paling rentan, terutama karena penurunan kemampuan tubuh dalam mengatur suhu dan persepsi terhadap rasa haus.
Hasegawa menjelaskan tiga faktor utama pemicu heatstroke: lingkungan, aktivitas fisik, dan kondisi pribadi. Lingkungan yang panas, lembap, dan minim angin membuat keringat sulit menguap, sehingga suhu tubuh cepat naik. Ia menekankan bahwa awal musim panas adalah masa kritis karena tubuh belum beradaptasi dengan panas dan produksi keringat belum optimal. Aktivitas berat tanpa istirahat, obesitas, kurang tidur, dan asupan makanan yang tidak mencukupi juga meningkatkan risiko.
Menariknya, Hasegawa mengkritik efektivitas alat pendingin populer seperti kipas mini dan handuk pendingin. Meskipun memberikan sensasi sejuk, alat tersebut justru bisa menutupi kenaikan suhu tubuh yang sebenarnya. Ia juga menyebut bahwa mendinginkan leher atau ketiak tidak banyak menurunkan suhu inti. Sebaliknya, area yang efektif adalah telapak tangan, telapak kaki, dan pipi—tempat di mana darah yang didinginkan dapat kembali bersirkulasi ke seluruh tubuh. Metode lain yang direkomendasikan adalah minum es slurry, yaitu campuran cairan dengan butiran es sangat halus yang langsung mendinginkan dari dalam perut sebelum mencair.
Bagi Indonesia, ancaman heatstroke juga relevan mengingat iklim tropis dan tingginya aktivitas luar ruangan. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat ribuan kasus sengatan panas setiap tahun, terutama saat musim kemarau. Pola pencegahan yang disarankan Hasegawa—seperti aklimatisasi bertahap, minum air rutin tanpa menunggu haus, dan mengenali gejala awal (kram kaki, pusing, muka pucat)—dapat diadopsi oleh pekerja lapangan, atlet, dan lansia di Indonesia. Penggunaan AC dan ventilasi yang baik di dalam ruangan juga krusial, mengingat banyak kasus heatstroke terjadi di rumah pada kelompok rentan.
Hasegawa mengingatkan bahwa jika gejala tidak membaik, korban kehilangan kesadaran, atau muntah berulang, segera hubungi ambulans. Pertanyaannya, seberapa siap sistem kesehatan Indonesia menghadapi lonjakan kasus serupa di tengah prediksi cuaca ekstrem global?



