Gelombang Panas Eropa: Mengenal Fenomena Heat Dome yang Mematikan
Baca dalam 60 detik
- Eropa dilanda gelombang panas ekstrem akibat fenomena heat dome, dengan suhu mencapai 41ยฐC di Prancis dan Italia.
- Heat dome adalah sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas, menyebabkan cuaca kering dan panas berkepanjangan.
- Perubahan iklim memperkuat frekuensi dan intensitas heat dome, mengancam kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi.

Gelombang panas yang melanda Eropa pada Juni 2026 telah menimbulkan dampak serius, mulai dari puluhan korban jiwa hingga gangguan infrastruktur. Fenomena ini dipicu oleh pola cuaca yang dikenal sebagai Omega block, yang membentuk heat domeโsistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di suatu wilayah. Di Prancis, lebih dari 90 persen penduduk terpapar suhu ekstrem antara 39 hingga 41 derajat Celsius, sementara Italia menempatkan 16 kota dalam status siaga merah.
Menurut Mireia Ginesta, peneliti di Climate Litigation Lab Universitas Oxford, heat dome terjadi ketika udara bertekanan tinggi di atmosfer tidak dapat bergerak karena dinamika atmosfer di sekitarnya. Sistem ini bertahan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, memerangkap panas dan kelembapan di bawahnya. Udara yang tenggelam mengalami kompresi, meningkatkan suhu secara signifikan. Akibatnya, pembentukan awan terhambat, radiasi matahari mencapai permukaan tanah lebih intens, dan kondisi menjadi sangat kering serta panas.
Heat dome berbeda dengan heatwave biasa. Koh Tieh Yong, profesor adjung di National University of Singapore, menjelaskan bahwa heatwave adalah istilah umum untuk suhu yang lebih tinggi dari normal, sedangkan heat dome adalah fenomena spesifik yang hanya terjadi di daerah lintang menengah. Wilayah tropis seperti Indonesia tidak mengalami heat dome karena variasi tekanan permukaan terlalu kecil. Namun, Indonesia tetap bisa mengalami heatwave, misalnya saat El Nino.
Dampak gelombang panas ini tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga ekonomi dan infrastruktur. Di Prancis, asosiasi pengusaha MEDEF melaporkan bahwa perusahaan memperlambat operasi untuk melindungi pekerja. Permintaan kipas angin melonjak hingga stok habis di beberapa toko Paris. Sistem kereta api terganggu karena AC otomatis mati saat suhu terlalu tinggi, memaksa operator membatalkan perjalanan di rute paling terpapar. Sekolah-sekolah ditutup di beberapa wilayah Eropa.
Para ilmuwan iklim menegaskan bahwa perubahan iklim memperparah fenomena ini. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa tanpa pemanasan global, suhu saat ini bisa lebih rendah 2โ4 derajat Celsius. Penelitian lain pada 2022 mengungkap bahwa pemanasan global meningkatkan kemungkinan terjadinya heat dome hingga 150 kali lipat. Eropa sendiri memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Gordon McBean, profesor emeritus di Western University, memperingatkan bahwa seiring pemanasan, jumlah dan intensitas heat dome akan meningkat, dan suhu di bawahnya bisa menjadi lebih ekstrem.
Bagi Indonesia, meski tidak mengalami heat dome, gelombang panas tetap menjadi ancaman. WMO menggunakan ambang batas lokal untuk mendefinisikan heatwave, sehingga suhu 30ยฐC di Skandinavia bisa dianggap ekstrem, sementara di Indonesia hal itu biasa. Namun, perubahan iklim global berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas heatwave di seluruh dunia, termasuk di kawasan tropis. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi konsekuensi dari perubahan iklim yang semakin nyata?



