Empat Mesin Gol Piala Dunia: Bagaimana Bek Menghentikan Messi, Mbappe, Haaland, dan Kane?
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Harry Kane memulai Piala Dunia 2026 dengan performa mencetak gol yang luar biasa, mengancam rekor dan pertahanan lawan.
- Ashley Williams, mantan bek Wales, membeberkan strategi berbeda untuk menghadapi masing-masing pemain, mulai dari menutup ruang hingga memutus suplai bola.
- Dominasi para striker elite ini menandai pergeseran taktik sepak bola modern, di mana antisipasi kolektif menjadi kunci utama bertahan.

Piala Dunia 2026 baru memasuki pekan pertama, namun empat penyerang paling mematikan di dunia sudah menunjukkan taringnya. Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Harry Kane—masing-masing dengan gaya bermain yang kontras—telah mengumpulkan total sembilan gol dalam laga perdana mereka. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mereka akan bersinar, melainkan bagaimana cara menghentikan mereka?
Messi, yang genap berusia 39 tahun Rabu lalu, membungkam keraguan tentang usianya dengan hat-trick ke gawang Aljazair. Kapten Argentina itu kini menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 16 gol. Mbappe, dengan dua golnya ke gawang Senegal, resmi menjadi topskor sepanjang masa Prancis (58 gol). Haaland, yang baru debut di turnamen besar, mencetak dua gol untuk Norwegia melawan Irak, sementara Kane mengirim dua gol untuk Inggris ke gawang Kroasia.
Menurut Ashley Williams, mantan bek Everton dan Wales yang pernah berhadapan langsung dengan Mbappe, setiap striker membutuhkan pendekatan bertahan yang unik. "Melawan Messi, Anda harus memilih racun—lebih baik biarkan pemain lain yang menembak daripada dia," ujar Williams. Ia menekankan bahwa memaksa Messi ke kaki lemah hampir sia-sia karena kontrol bola dan keseimbangannya yang luar biasa. Sebaliknya, Mbappe lebih mudah diantisipasi karena kecepatannya yang konstan, meski tetap berbahaya jika lengah.
Haaland, menurut Williams, adalah tipe penyerang yang mematikan tanpa bola. "Dia akan mengalahkan Anda tanpa bola, yang membuatnya lebih berbahaya. Kuncinya adalah menghentikan suplai bola ke arahnya," jelas Williams. Haaland, dengan 57 gol dalam 51 caps, adalah yang paling klinis di antara keempatnya. Sementara Kane, yang kini lebih sering turun ke lini tengah, mengandalkan visi dan umpan-umpan panjang untuk membuka ruang bagi rekan setimnya seperti Jude Bellingham dan Anthony Gordon.
Fenomena ini tidak hanya menarik bagi penggemar sepak bola global, tetapi juga relevan bagi Indonesia. Dengan semakin banyaknya pemain Indonesia yang merumput di liga Eropa—seperti Rafael Struick, Ivar Jenner, dan Marselino Ferdinan—pelatih timnas Garuda perlu mempelajari pola pertahanan seperti yang diuraikan Williams. "Jika timnas Indonesia harus menghadapi tim dengan striker sekelas mereka, disiplin posisi dan komunikasi lini belakang menjadi mutlak," kata analis sepak bola Indonesia, Bung Rojil. "Kita lihat bagaimana Vietnam dan Thailand mulai mengadopsi pressing tinggi; Indonesia harus belajar dari kesalahan lawan-lawan mereka."
Williams menambahkan bahwa pertahanan yang baik bukan hanya soal individu, melainkan kerja sama tim. "Jika Anda fokus pada Mbappe, pemain lain seperti Olise atau Dembele akan menyakiti Anda. Anda harus bekerja sebagai satu kesatuan," tegasnya. Di sisi lain, Kane yang sering turun ke tengah memaksa bek untuk berkomunikasi dengan gelandang bertahan agar tidak terjadi kekosongan di lini belakang.
Piala Dunia 2026 masih panjang, dan keempat striker ini diprediksi akan terus mendominasi papan skor. Namun, apakah para bek mampu beradaptasi? Atau justru turnamen ini akan menjadi panggung pameran bagi para penyerang? Satu hal yang pasti: setiap gol yang tercipta akan menjadi pelajaran berharga bagi tim mana pun yang bercita-cita menjadi juara.



