Ozempic Bisa Redam Kecanduan: Ilmuwan Akhirnya Temukan Mekanisme Otaknya
Baca dalam 60 detik
- Obat penurun berat badan seperti Ozempic terbukti menekan konsumsi alkohol dan zat adiktif lain pada studi manusia dan hewan.
- Peneliti mengidentifikasi septum lateral sebagai pusat kendali hasrat, yang kaya akan reseptor GLP-1 dan menjadi target kerja obat ini.
- Temuan ini membuka jalan bagi terapi baru untuk kecanduan, termasuk di Indonesia yang menghadapi masalah obesitas dan penyalahgunaan narkoba.

Obat penurun berat badan yang populer seperti Ozempic dan Wegovy tidak hanya membantu mengecilkan lingkar pinggang, tetapi juga menunjukkan potensi luar biasa dalam meredam kecanduan—dan para ilmuwan akhirnya mengungkap bagaimana mekanisme itu bekerja di otak. Studi terbaru menempatkan sebuah wilayah otak kecil bernama septum lateral sebagai pusat kendali hasrat, yang selama ini luput dari perhatian riset adiksi.
GLP-1 agonis, kelas obat yang mencakup Ozempic, awalnya dikembangkan untuk diabetes tipe 2 karena kemampuannya mengontrol gula darah. Efek samping penurunan berat badan yang dramatis—mendekati hasil operasi bariatrik—memicu lonjakan penggunaannya. Namun, efek yang kurang dipublikasikan justru lebih menarik: studi pada manusia menunjukkan obat ini mengurangi konsumsi alkohol, sementara percobaan pada hewan mencatat penurunan penggunaan kokain, amfetamin, opiat, dan nikotin.
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana obat ini bekerja di otak. Selama puluhan tahun, riset adiksi berfokus pada sirkuit dopamin di area tegmental ventral (VTA) dan nukleus akumbens (NAc). Namun, kedua wilayah itu miskin reseptor GLP-1, sehingga bukan target langsung. Peneliti kemudian melihat ke "hulu" sirkuit tersebut, tepatnya di septum lateral—struktur yang sejak 1953 dikenal terkait regulasi emosi, terutama agresi.
Peran septum lateral kini diredefinisi. Wilayah ini menerima input utama dari hipokampus, pusat memori episodik dan "sel tempat" yang memberi informasi spasial-temporal. Riset terbaru menemukan bahwa septum lateral juga memiliki sel tempat, tetapi sel-sel ini merespons kuat terhadap imbalan. Dengan kata lain, septum lateral menggabungkan informasi "di mana dan kapan saya berada" dengan "apa yang baik di tempat ini", lalu meneruskannya ke area penghasil dopamin.
Implikasi bagi Indonesia cukup signifikan. Dengan prevalensi obesitas yang terus meningkat—mencapai 21,8% pada 2018 menurut Riskesdas—dan angka penyalahgunaan narkoba yang masih tinggi, temuan ini membuka harapan terapi baru. Namun, akses terhadap obat seperti Ozempic masih terbatas dan mahal, serta belum terdaftar untuk indikasi adiksi. Regulator dan peneliti dalam negeri perlu mulai mengkaji potensi repurposing obat ini untuk mengatasi masalah kecanduan yang multifaset.
Menurut para ahli, temuan ini mengubah paradigma lama yang menempatkan dopamin sebagai satu-satunya aktor kunci. Septum lateral kini dipandang sebagai "rumah hasrat"—tempat di mana pikiran sadar tentang imbalan bertemu dengan mesin dopamin. Langkah selanjutnya adalah mengonfirmasi mekanisme ini pada manusia dan mengembangkan terapi yang lebih spesifik tanpa efek samping penurunan berat badan yang tidak diinginkan.
Apakah septum lateral akan menjadi target utama farmakoterapi adiksi di masa depan? Atau justru memicu pengembangan obat generasi baru yang lebih aman? Yang jelas, pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kecanduan telah terbuka, dan Indonesia perlu bersiap memanfaatkannya.



