Adele Kembali ke London: Isyarat Album Baru yang Lebih Dekat dengan Akar?
Baca dalam 60 detik
- Adele dilaporkan terbang ke London untuk sesi rekaman di Church Studios, tempat ia pernah menggarap album 25.
- Kepulangan ini dinilai sebagai upaya sang diva untuk menghidupkan kembali nuansa 'down to earth' yang dulu menjadi ciri khasnya.
- Jika terealisasi, album baru ini berpotensi mengubah arah musik pop global dan memengaruhi tren industri rekaman di Indonesia.

Dua tahun setelah memutuskan rehat dari panggung, Adele kembali mencuri perhatian publik. Pelantun "Hello" itu dikabarkan telah meninggalkan Los Angeles dan terbang ke London untuk memulai proses kreatif album baru. Langkah ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan sinyal kuat bahwa penyanyi berusia 38 tahun itu ingin merajut kembali benang merah dengan masa lalunya.
Menurut laporan yang beredar, Adele terlihat beberapa kali masuk dan keluar dari Church Studios di kawasan Crouch End, London Utara. Studio yang dimiliki produser Paul Epworth ini bukan tempat asing baginyaโdi sanalah ia merekam sebagian besar album 25 yang meledak di pasaran. Kehadiran Adele di sana selama setidaknya dua pekan terakhir menimbulkan spekulasi bahwa ia tengah mengerjakan materi baru. Seorang sumber yang dekat dengan penyanyi itu mengatakan kepada The Sun bahwa Adele merasa aman dan nyaman bekerja di studio tersebut, sehingga ia memilih terbang jauh dari LA demi mengejar inspirasi.
Yang menarik, keputusan Adele kembali ke London juga didorong oleh keinginan untuk menghormati kampung halamannya. Seorang insider mengungkapkan bahwa orang-orang terdekat Adele mendorongnya untuk kembali ke akar, karena mereka yakin hal itu akan membawa warna baru dalam musiknya. "Album terakhirnya sangat Hollywood. Orang-orang dulu menyukai Adele karena ia rendah hati dan dekat dengan keseharian. Kini ia mencoba mengembalikan itu dengan menggali inspirasi dari kampung halamannya," ujar sang sumber. Ini menjadi isyarat bahwa Adele mungkin akan meninggalkan kemewahan produksi khas Amerika dan kembali ke gaya yang lebih organik dan personal.
Kembalinya Adele ke London juga membawa implikasi bagi industri musik global, termasuk Indonesia. Pasar musik Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh tren balada pop internasional. Jika Adele benar-benar merilis album dengan nuansa yang lebih intim dan akustik, bukan tidak mungkin label-label lokal akan mengikuti arah serupa. Apalagi, platform streaming seperti Spotify dan Apple Music telah memudahkan pendengar Indonesia mengakses rilisan global secara real-time. Sebuah album Adele yang lebih "London" bisa menjadi katalis bagi musisi Tanah Air untuk mengeksplorasi tema-tema lokal dan personal, alih-alih mengejar produksi megah ala barat.
Selain sesi rekaman, Adele juga sempat terlihat menghadiri pesta ulang tahun aktor Aaron Taylor-Johnson dan konser Lola Young di O2 Academy Brixton. Aktivitas ini menunjukkan bahwa ia mulai membangun kembali jejaring sosial di London setelah bertahun-tahun di LA. Sebelum rehat, Adele mengaku memilih residensi di Las Vegas agar bisa lebih banyak waktu bersama putranya, Angelo. "Aku memilih residensi karena aku benci tur. Tapi aku melakukannya agar hidupnya tetap normal," ujarnya saat pamit pada November lalu. Kini, dengan anaknya yang semakin besar, Adele tampaknya siap kembali ke ritme kerja yang lebih fleksibel.
Pertanyaan besarnya sekarang: akankah album baru ini mampu mengulang kesuksesan 21 atau 25? Atau justru Adele akan mengambil risiko dengan eksperimen yang benar-benar baru? Yang jelas, langkahnya kembali ke London adalah sebuah pernyataan: bahwa ia tidak takut memulai dari awal, dan bahwa akar selalu menjadi tempat pulang yang paling jujur. Bagi penggemar di Indonesia, ini adalah kabar yang patut dinantiโkarena ketika Adele bersuara, dunia mendengarkan.



