Nilai Sebuah Unggahan Instagram Lisa Blackpink Tembus Rp200 Miliar, Bukti Kekuatan Soft Power Thailand
Baca dalam 60 detik
- Lisa Manobal mencetak rekor media value global: satu unggahan Instagram pribadinya bernilai lebih dari 58 juta baht atau setara Rp200 miliar.
- Angka ini menempatkan Lisa sebagai ikon budaya dan aset pemasaran bagi merek mewah seperti Louis Vuitton dan Bulgari, dengan dampak langsung pada penjualan.
- Di luar K-pop, Lisa kini mengelola perusahaan sendiri, debut di Hollywood, dan menjadi duta pariwisata Thailand—memperkuat pengaruh budaya Thailand di panggung dunia.

Lalisa “Lisa” Manobal, personel Blackpink asal Thailand, kembali mencatat rekor global. Sebuah unggahan tunggal di akun Instagram pribadinya kini bernilai lebih dari 58 juta baht atau sekitar Rp200 miliar, menjadikannya salah satu figur publik dengan nilai media sosial tertinggi di dunia. Angka ini bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan cerminan bagaimana seorang artis bisa menjadi motor penggerak soft power sebuah negara.
Menurut platform analitik digital IAA, nilai tersebut dihitung berdasarkan potensi pendapatan iklan yang setara dengan satu postingan di akun Instagram Lisa yang memiliki 105 juta pengikut. Bahkan fitur Instagram Stories miliknya diperkirakan bernilai lebih dari 27 juta baht per konten. Angka ini menempatkan Lisa di jajaran selebritas dengan pengaruh komersial tertinggi, sejajar dengan bintang Hollywood dan atlet top dunia.
Fenomena ini tidak lepas dari peran Lisa sebagai dutan merek global. Untuk rumah mode seperti Louis Vuitton dan Bulgari, kehadiran Lisa di media sosial bukan lagi sekadar ruang iklan, melainkan investasi dalam pengaruh budaya yang bisa mengonversi perhatian publik menjadi momentum penjualan. Contoh nyata terlihat saat Lisa menjadi duta global pertama proyek patungan NikeSKIMS: dalam sehari, pencarian produk Pink Foam melonjak 400 persen.
Di dunia mode, pamor Lisa semakin bersinar setelah terpilih sebagai anggota komite tuan rumah Met Gala 2026. Dalam acara tersebut, ia tampil mengenakan gaun custom Robert Wun yang terinspirasi dari tarian tradisional Thailand. Langkah ini, menurut laporan Vogue, tidak hanya menonjolkan sisi fashion tetapi juga identitas budaya asalnya.
Yang membedakan Lisa dari banyak artis global lainnya adalah kemampuannya membawa soft power Thailand ke panggung internasional secara strategis. Setiap kali ia menampilkan atau mereferensikan budaya Thailand, perhatian global langsung mengikutinya. Pemerintah Thailand pun memanfaatkan hal ini dengan menunjuknya sebagai Duta Amazing Thailand untuk mempromosikan pariwisata. Kampanye yang digagas Otoritas Pariwisata Thailand ini menyajikan negeri Gajah Putih sebagai destinasi emosional dan kaya makna budaya.
Bagi Indonesia, fenomena Lisa memberikan pelajaran berharga. Dengan jumlah diaspora dan kekayaan budaya yang tak kalah besar, Indonesia sebenarnya memiliki potensi serupa untuk mengangkat figur publik sebagai agen soft power. Namun, sejauh ini belum ada artis Indonesia yang mampu menembus angka media value setinggi itu. Keberhasilan Lisa menunjukkan bahwa sinergi antara industri kreatif, pemerintah, dan merek global bisa menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan.
Di luar ketenaran sebagai idola K-pop, Lisa telah melebarkan sayapnya. Ia mendirikan perusahaan manajemen artis bernama LLOUD yang fokus pada inovasi dan autentisitas. Langkah ini memberinya kendali kreatif penuh atas kariernya. Tak hanya itu, ia juga memulai debut akting di HBO melalui serial The White Lotus musim ketiga, serta terlibat dalam proyek film aksi Tygo yang terkait dengan semesta Extraction. Lisa juga dikabarkan tengah mengembangkan film komedi romantis bersama produser David Bernad.
Produser Hollywood David Bernad bahkan menjuluki Lisa sebagai “Putri Diana dari Thailand” dalam wawancara dengan Vanity Fair. Ia mengagumi daya tarik global Lisa yang mampu membuat ratusan orang di sebuah klub berhenti dan memandanginya, seraya menekankan kerendahan hati dan semangat belajarnya.
Nilai Lisa tidak hanya terletak pada jumlah pengikut atau angka media value yang fantastis. Keputusannya untuk keluar dari zona nyaman K-pop, mendirikan LLOUD, merambah Hollywood, dan menciptakan musik yang mencerminkan identitasnya sendiri membuktikan bahwa ia bukan sekadar produk industri hiburan. Ia adalah merek hidup yang memiliki kedalaman emosional, kekuatan budaya, dan pengaruh bisnis.
Pertanyaan selanjutnya: akankah Indonesia mampu melahirkan figur serupa yang tidak hanya populer secara global tetapi juga menjadi lokomotif soft power nasional? Atau justru akan terus menjadi penonton di tengah persaingan industri kreatif Asia yang semakin ketat?



