K-Drama 'Teach You a Lesson' Puncaki Netflix: Potret Buram Sistem Pendidikan yang Gagal Lindungi Korban
Baca dalam 60 detik
- Serial Korea 'Teach You a Lesson' menduduki peringkat pertama global Netflix untuk serial non-Inggris hanya sepekan setelah rilis, mengalahkan banyak tayangan populer lainnya.
- Drama ini mengangkat krisis pendidikan di Korea Selatan melalui kisah unit khusus yang menegakkan keadilan di sekolah, menyoroti perundungan, korupsi, dan kegagalan institusi melindungi siswa.
- Fenomena viralnya serial ini di Asia, termasuk China saat musim ujian Gaokao, mencerminkan keresahan global terhadap tekanan dan ketimpangan dalam sistem pendidikan modern.

Hanya dalam sepekan setelah penayangan perdananya, drama Korea Teach You a Lesson garapan sutradara Hong Jong-chan langsung memuncaki tangga global Netflix untuk kategori serial non-Bahasa Inggris pada periode 1–7 Juni. Adaptasi dari webtoon populer Get Schooled (2020) ini tidak hanya menyuguhkan aksi balas dendam yang memuaskan, tetapi juga mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa sebenarnya pendidikan ketika ruang kelas justru menjadi medan kekerasan dan ketidakadilan?
Serial sepuluh episode ini berkisah tentang Biro Perlindungan Hak-Hak Pendidikan (ERPB), sebuah unit bentukan Menteri Pendidikan Korea Selatan Choi Gang-seok (diperankan Lee Sung-min) setelah putrinya yang seorang guru tewas dibunuh murid. Dipimpin oleh mantan kapten pasukan khusus Na Hwa-jin (Kim Mu-yeol), unit ini diberi wewenang luar biasa untuk mengintervensi sekolah-sekolah yang bermasalah. Bersama dua rekannya—Im Han-rim yang eksentrik dan Bong Geun-dae yang jenius teknologi—mereka menangani kasus perundungan, korupsi, kecurangan akademik, narkoba, hingga eksploitasi yang luput dari penanganan institusi resmi.
Menurut artikel Forbes, serial ini disebut sebagai “salah satu drama paling adiktif dan memuaskan tahun ini.” Popularitasnya meledak di Asia dan berbagai belahan dunia. Namun di balik adegan laga dan hukuman publik yang kontroversial, Teach You a Lesson menyimpan kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang gagal melindungi korban. Seperti ditegaskan Menteri Choi dalam serial, “Kami tidak berdiri di sisi guru ataupun murid. Kami berdiri di sisi korban.” Frasa ini menjadi poros narasi yang menolak dikotomi hitam-putih.
Kritik dari praktisi pendidikan Korea Selatan menuding serial ini mengglorifikasi kekerasan dan hukuman fisik. Namun, popularitasnya justru mengindikasikan bahwa penonton haus akan representasi keadilan yang cepat dan memuaskan—sesuatu yang sering absen di dunia nyata. Dialog-dialog seperti “Jika orang dewasa mulai takut pada anak-anak, maka hancurlah dunia” atau “Jika rasa sakit itu terus disembunyikan, tidak akan ada yang tahu bahwa pertolongan sedang dibutuhkan” menjadi pengingat akan runtuhnya wibawa guru dan pentingnya keberanian bersuara.
Fenomena ini relevan dengan kondisi Indonesia. Kasus perundungan di sekolah, kekerasan guru terhadap murid, dan sebaliknya, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat ribuan laporan kekerasan di lingkungan pendidikan setiap tahun. Sistem pengaduan yang ada kerap dianggap tidak efektif, sehingga publik mencari solusi instan—meski hanya dalam tontonan. Teach You a Lesson menawarkan fantasi keadilan yang sulit ditemukan dalam birokrasi pendidikan kita.
Serial ini juga menyentuh isu tekanan kompetisi yang akut. Di episode pamungkas, Hwa-jin berkata, “Kesempatan bukanlah sesuatu yang diberikan padamu, melainkan sesuatu yang kamu raih saat kamu benar-benar menginginkannya.” Kalimat ini merefleksikan keyakinan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan mobilitas sosial—sebuah beban yang juga dirasakan pelajar Indonesia. Ketika sistem tidak lagi mampu melindungi, pertanyaan yang tersisa: untuk apa sebenarnya pendidikan?



