Bintang TV Australia Terancam Hengkang Akibat Wawancara Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Karl Stefanovic, pembawa acara TV Australia, dilaporkan akan meninggalkan Nine Entertainment setelah wawancara dengan aktivis sayap kanan Tommy Robinson memicu protes pemirsa dan pengiklan.
- Podcast independennya, The Karl Stefanovic Show, menuai kritik karena menampilkan figur kontroversial dan pernyataan yang dianggap tidak pantas, termasuk pujian terhadap Robinson.
- Kepergian Stefanovic menandai akhir dari karier panjang di TV pagi, namun juga menjadi pengingat bagi media Indonesia tentang risiko konten independen yang tidak terkontrol.

Karl Stefanovic, presenter TV paling populer di Australia, dilaporkan akan meninggalkan Nine Entertainment setelah wawancaranya dengan aktivis sayap kanan Tommy Robinson memicu gelombang protes dari pemirsa dan pengiklan. Langkah ini mengakhiri karier panjangnya sebagai pembawa acara Today, program sarapan yang membesarkan namanya selama hampir dua dekade.
Menurut laporan media lokal, negosiasi pemutusan kontrak sedang berlangsung antara Stefanovic dan Nine. Meskipun pihak Nine enggan mengonfirmasi secara resmi kepada BBC, juru bicara perusahaan menegaskan bahwa The Karl Stefanovic Show adalah produksi independen tanpa keterlibatan Nine dalam pemilihan tamu atau proses editorial. Namun, mereka mengakui sedang menangani masalah ini dengan serius.
Podcast yang diluncurkan pada Januari lalu itu memang telah menjadi sumber kontroversi sejak awal. Stefanovic, yang pernah menjadi presenter dengan bayaran tertinggi di Australia, mewawancarai sejumlah figur kontroversial, termasuk Robinson. Dalam episode yang berdurasi 55 menit, ia memuji ketangguhan dan keberanian Robinson dalam memperjuangkan apa yang diyakininya benar. Video promosi yang menampilkan Stefanovic merangkul Robinson dan menggunakan istilah ofensif untuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer semakin memperkeruh suasana.
Episode tersebut ditarik dari platform dalam hitungan jam setelah reaksi negatif meluas. Para jurnalis di Nine dilaporkan menyuarakan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap merek editorial perusahaan, sementara pengiklan juga menyatakan ketidakpuasan. Tekanan ini menjadi puncak dari serangkaian kontroversi yang membayangi karier Stefanovic, termasuk komentarnya tentang dugaan kejahatan perang di Afghanistan, budaya woke, dan vaksinasi.
Bagi industri media di Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang risiko konten independen yang tidak sejalan dengan nilai perusahaan. Di era di mana figur publik semakin mudah membuat platform sendiri, kontrol editorial dan tanggung jawab terhadap pengiklan menjadi krusial. Media di Indonesia, yang kerap menghadapi tekanan serupa dari pemirsa dan regulator, perlu mencermati bagaimana Nine menangani situasi iniโantara melindungi merek dan menghormati kebebasan kreatif.
Stefanovic sendiri bukanlah orang asing dengan skandal. Ia pernah tampil mabuk di siaran langsung setelah acara penghargaan, dan meminta maaf di udara setelah tertangkap menghina rekan pembawa acaranya di dalam taksi Uber. Ia mundur dari Today pada akhir 2018 karena rating rendah dan liputan intens tentang kehidupan pribadinya, namun kembali setahun kemudian. Kini, dengan tekanan baru yang lebih besar, masa depannya di dunia penyiaran Australia tampak suram.
Pertanyaan yang tersisa: akankah Stefanovic kembali bangkit seperti sebelumnya, ataukah ini akhir dari perjalanannya sebagai ikon TV Australia? Yang jelas, kasus ini menunjukkan bahwa di era media sosial, satu langkah salah bisa menghancurkan karier yang dibangun selama puluhan tahun.



