De la Fuente di Piala Dunia 2026: Pelatih yang Menjadi Ayah bagi Skuad Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Luis de la Fuente merayakan ulang tahun ke-65 di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 4-0 atas Arab Saudi, menegaskan perannya sebagai figur ayah bagi para pemain.
- Pengalaman panjangnya membina pemain muda sejak level U-19 membuatnya memahami setiap pemain secara personal, bukan hanya taktik.
- Pendekatan paternal De la Fuente menjadi kunci dalam mengelola bakat muda seperti Lamine Yamal, yang mencetak gol debut di turnamen ini.

Luis de la Fuente, pelatih tim nasional Spanyol, genap berusia 65 tahun saat memimpin anak asuhnya membantai Arab Saudi 4-0 dalam laga kedua Grup B Piala Dunia 2026. Namun, lebih dari sekadar kemenangan, momen itu menegaskan perannya sebagai figur ayah bagi skuad La Roja—sebuah pendekatan yang telah ia bangun sejak lama.
De la Fuente, yang kerap bercanda bahwa usianya baru 55 tahun dan tampak lebih muda, bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul di panggung utama. Ia memulai perjalanannya di struktur kepelatihan Federasi Sepak Bola Spanyol pada 2013, menangani tim U-19, lalu U-21, dan tim Olimpiade sebelum akhirnya dipercaya menukangi tim senior pada Desember 2022. Selama hampir satu dekade itu, ia tak hanya melatih, tetapi juga membina pemain-pemain yang kini menjadi tulang punggung Spanyol.
Nama-nama seperti Rodri, Fabian Ruiz, Mikel Merino, dan Unai Simon adalah produk didikannya sejak remaja. Bek Jesus Vallejo, yang pernah menjadi kapten di berbagai kelompok usia di bawah De la Fuente, pernah memuji kemampuan pelatihnya dalam mengenal pemain sejak usia 15 tahun. Keakraban itulah yang membuat De la Fuente mampu memahami setiap pemain tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi.
Pendekatan paternal ini terlihat jelas dalam cara De la Fuente menangani Lamine Yamal, bintang muda yang menjadi sorotan. Sebelum pertandingan, ia diminta membandingkan Yamal dengan legenda seperti Lionel Messi atau Diego Maradona. Jawabannya tegas: "Kesalahan terbesar adalah membandingkannya dengan Messi atau Maradona. Dia masih berkembang dan memiliki perjalanan panjang menuju kedewasaan. Bagi kami, dia hanyalah anggota kelompok lainnya, dan itu adalah kekuatan besar."
De la Fuente menekankan pentingnya mendampingi pemain muda tanpa menekan. "Kami harus membantunya jika ingin menikmati permainannya. Caranya adalah dengan mendampingi proses perkembangannya, seperti orang tua. Tanpa menginvasi ruang pribadinya, tetapi selalu ada di sisinya," ujarnya. Filosofi ini kontras dengan tekanan eksternal yang menginginkan Yamal segera menjadi pusat permainan.
Yamal sendiri menjalani debut Piala Duniakala Spanyol ditahan imbang tanpa gol oleh Cabo Verde. Namun, De la Fuente tetap memberinya kepercayaan sebagai starter melawan Arab Saudi. Hasilnya, Yamal membuka keunggulan dan mengubah Atlanta Stadium menjadi gemuruh. "Meragukan generasi semuda ini tampaknya tidak adil bagi saya. Saya adalah seorang pendidik sebelum menjadi pelatih. Anda tidak bisa berbicara kepada Lamine dengan cara yang sama seperti Anda berbicara kepada Jesus Navas," kata De la Fuente usai laga.
Bagi Indonesia, pendekatan De la Fuente bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah gencarnya pembinaan usia muda di Tanah Air, pentingnya figur pelatih yang memahami psikologi pemain—bukan sekadar taktik—sering terabaikan. Model kepelatihan ala De la Fuente, yang mengedepankan hubungan personal dan kesabaran, bisa menjadi alternatif dalam mengelola talenta muda berbakat.
Di usianya yang ke-65, De la Fuente lebih banyak berbicara tentang ikatan kekeluargaan dibandingkan trofi. "Harapan ulang tahun saya adalah bisa terus menikmati hidup, pekerjaan, dan keberuntungan yang saya miliki. Kami adalah sebuah keluarga," ucapnya. Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan ini membawa Spanyol meraih gelar juara dunia ketiga, atau justru menjadi bumerang di fase gugur yang lebih ketat?



