Swiss Pukul Kanada 2-1, Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Tersingkir ke LA
Baca dalam 60 detik
- Swiss mengalahkan Kanada 2-1 di Vancouver, memuncaki Grup B dan memaksa tuan rumah Piala Dunia 2026 bermain di Los Angeles pada fase gugur.
- Kekalahan ini mengungkap kesenjangan kualitas antara Kanada yang optimistis setelah kemenangan 6-0 atas Qatar, melawan Swiss yang disiplin dan berpengalaman.
- Kanada kehilangan kesempatan tampil di depan pendukung sendiri setelah hanya butuh hasil imbang, kini harus mengandalkan dukungan suporter yang rela bepergian ke LA.

Kanada gagal memanfaatkan status tuan rumah setelah takluk 2-1 dari Swiss di BC Place, Vancouver, Selasa (24/6) waktu setempat. Hasil ini memastikan Swiss memuncaki Grup B Piala Dunia 2026, sementara Kanada harus meninggalkan kandang sendiri dan melaju ke Los Angeles untuk babak 16 besar.
Sebelum laga, Kanada hanya membutuhkan hasil imbang untuk tetap bermain di Vancouver. Namun, Swiss yang diperkuat kapten Granit Xhaka tampil lebih matang secara taktik dan fisik. Sepanjang babak kedua, tim polesan Jesse Marsch kesulitan menguasai bola dan hanya melepaskan tembakan-tembakan lemah yang mudah diamankan kiper Gregor Kobel.
Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi Kanada yang sebelumnya tampil meyakinkan. Mereka menahan Bosnia & Herzegovina dan menghancurkan Qatar 6-0. Akan tetapi, lawan kali ini berbeda level. Swiss yang menempati peringkat 17 dunia (Kanada peringkat 30) menunjukkan bagaimana pengalaman dan organisasi permainan mampu membungkam euforia tim tuan rumah.
Bagi publik sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi dan kedalaman skuad. Timnas Indonesia yang tengah mengejar mimpi tampil di Piala Dunia masa depan bisa mencontoh pendekatan Swiss: disiplin taktik, penguasaan bola sabar, dan agresivitas tanpa bola. Sementara itu, euforia berlebihan seperti yang dialami Kanada setelah kemenangan besar bisa menjadi bumerang jika tidak dibarengi persiapan mental menghadapi lawan tangguh.
Bek Kanada, Alistair Johnston, mengakui kekecewaan harus pindah markas. โKami ingin tinggal di Vancouver, tapi sekarang kami butuh suporter untuk ikut ke LA dan menciptakan atmosfer yang sama,โ ujarnya. Ia tetap bangga dengan perjuangan tim, namun realitas menunjukkan bahwa Swiss terlalu kuat.
Dengan kekalahan ini, Kanada harus segera bangkit. Mereka akan menghadapi lawan dari Grup A atau C di Los Angeles, tanpa dukungan penuh publik Vancouver. Pertanyaannya, mampukah Marsch meramu strategi agar timnya tidak kembali mendapat โpelajaran sepak bolaโ seperti saat melawan Swiss?



