Duel Inggris vs Ghana: Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026 Diperebutkan di Boston
Baca dalam 60 detik
- Inggris dan Ghana sama-sama mengoleksi tiga poin setelah kemenangan di laga perdana Grup L, dan pertemuan di Boston akan menentukan siapa yang lolos lebih dulu ke fase gugur.
- Ghana, yang belum pernah ke babak knockout sejak 2010, datang dengan kepercayaan diri tinggi berkat disiplin taktik ala Carlos Queiroz serta kembalinya Thomas Partey.
- Kemenangan bagi Inggris akan memberi peluang rotasi skuad, sementara Ghana harus menahan gempuran lini depan yang tajam jika ingin mengulang sukses 2010.

Inggris dan Ghana akan saling sikut di Stadion Gillette, Boston, Selasa (22/6) waktu setempat, dalam laga yang bisa mengantarkan salah satu tim ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kedua tim sama-sama mengantongi tiga poin dari kemenangan perdana di Grup L, membuat pertemuan ini menjadi duel penentu nasib.
Pada laga pembuka, Inggris tampil meyakinkan dengan mengalahkan Kroasia 4-2. Harry Kane, Jude Bellingham, dan Marcus Rashford menjadi pencetak gol, menunjukkan daya gedor yang mengesankan. Namun, dua gol yang bersarang ke gawang Jordan Pickford juga mengingatkan bahwa pertahanan masih menjadi titik rawan. Pelatih Thomas Tuchel, yang dikenal dengan pendekatan ofensifnya, kini dihadapkan pada tantangan menyeimbangkan agresivitas dengan soliditas di lini belakang.
Di sisi lain, Ghana mengawali turnamen dengan kemenangan tipis 1-0 atas Panama. Gol telat menjadi bukti kesabaran dan disiplin yang ditanamkan pelatih Carlos Queiroz. Kemenangan itu membawa Ghana ke ambang sejarah: lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak 2010, saat mereka mencapai perempat final. Queiroz menegaskan timnya siap berkorban. “Tidak ada jalan lain selain menderita dan bermain. Kami harus siap membayar harga, karena kemenangan di Piala Dunia ini sangat mahal,” ujarnya.
Kembalinya Thomas Partey menjadi suntikan moral bagi Ghana. Gelandang yang sempat ditolak masuk Kanada saat laga kontra Panama itu kini tersedia setelah tuduhan pemerkosaan dan penyerangan seksual yang dihadapinya di Inggris—yang telah ia bantah—tidak menghalangi partisipasinya. Partey diharapkan memperkuat lini tengah yang menjadi kunci transisi cepat andalan Queiroz.
Bagi Inggris, kemenangan akan memberi Tuchel keleluasaan merotasi pemain di laga pamungkas melawan Panama. Dengan materi pemain yang lebih unggul di atas kertas—dari Kane, Bellingham, hingga talenta muda seperti Kobbie Mainoo dan Morgan Rogers—The Three Lions difavoritkan. Namun, sejarah Piala Dunia kerap memberi kejutan. Ghana, dengan kecepatan dan fisik yang mumpuni, bisa menjadi batu sandungan jika Inggris lengah.
“Grup ini sulit. Kroasia dan Ghana adalah dua negara yang sering tampil di Piala Dunia, dua bangsa yang kuat dan bangga,” kata Tuchel mengenai persaingan di Grup L.
Dari perspektif Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim non-unggulan seperti Ghana bisa bersaing dengan kekuatan besar Eropa. Pelajaran tentang disiplin taktik dan mentalitas pantang menyerah bisa menjadi inspirasi bagi sepak bola nasional yang tengah membangun fondasi. Selain itu, keberagaman pemain Inggris yang multietnis juga mencerminkan globalisasi sepak bola yang kian terasa.
Pertanyaan besarnya: akankah Ghana mampu memanfaatkan momen ini untuk mengukir sejarah, atau justru Inggris yang akan membuktikan diri sebagai kandidat serius juara? Jawabannya akan terjawab di lapangan hijau Boston.



