Tragedi di Bac Ninh: Pria Bunuh Pacar dan Dua Anak, Lalu Akhiri Hidup
Baca dalam 60 detik
- Empat orang tewas dalam insiden kekerasan domestik di Viet Yen Ward, Bac Ninh, Vietnam, termasuk dua anak di bawah umur.
- Pelaku, Nguyen Van Tuyen (36), diduga cemburu dan menyerang korban dengan pisau sebelum bunuh diri.
- Kekerasan berbasis gender masih menjadi masalah serius di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memerlukan penanganan holistik.

Sebuah insiden kekerasan domestik berujung tragis di Viet Yen Ward, Provinsi Bac Ninh, Vietnam, pada Minggu (21/6) waktu setempat. Seorang pria berinisial Nguyen Van Tuyen (36) nekat membunuh pacarnya, N.T.N. (31), serta kedua anaknya yang masih kecil, sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi setempat mengonfirmasi bahwa peristiwa ini menewaskan empat orang dan melukai satu orang lainnya.
Menurut keterangan awal kepolisian, kejadian bermula dari cekcok hubungan asmara antara Tuyen dan N.T.N. di kawasan pemukiman Bai Bang. Dalam amarah yang tak terkendali, Tuyen menggunakan pisau untuk menyerang N.T.N., putranya yang berusia 10 tahun (N.H.P.), dan putrinya yang baru enam tahun (N.B.B.). Setelah melakukan aksi brutal itu, ia kemudian bunuh diri di lokasi kejadian.
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, yang merupakan adik angkat N.T.N. dengan inisial N.B.N., juga menjadi korban luka dalam insiden tersebut. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Viet Yen untuk mendapatkan perawatan darurat. Hingga berita ini diturunkan, kondisi kesehatannya belum diketahui secara pasti.
Polisi Provinsi Bac Ninh langsung menerjunkan tim penyidik dari Badan Investigasi Kepolisian Daerah setelah menerima laporan dari warga. Mereka bekerja sama dengan Divisi Polisi Kriminal Viet Yen Ward untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan forensik. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap motif di balik pembunuhan massal ini.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berujung pada pembunuhan dan bunuh diri bukanlah fenomena baru di Vietnam. Data dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam menunjukkan bahwa setiap tahun terjadi ribuan kasus KDRT, namun banyak yang tidak dilaporkan karena stigma sosial dan ketakutan korban. Insiden ini menyoroti perlunya intervensi dini dan layanan dukungan bagi korban kekerasan domestik.
Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2024 saja terdapat lebih dari 400.000 kasus kekerasan berbasis gender, dengan KDRT mendominasi. Angka ini kemungkinan hanya puncak gunung es karena banyak korban enggan melapor. Tragedi di Bac Ninh menjadi pengingat bahwa kekerasan domestik adalah masalah regional yang membutuhkan respons komprehensif, mulai dari edukasi, penegakan hukum, hingga rehabilitasi pelaku.
Pemerintah Vietnam sendiri telah memiliki Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pengendalian Kekerasan dalam Rumah Tangga yang direvisi pada tahun 2022. Namun, implementasi di lapangan masih lemah. Kepolisian Bac Ninh saat ini masih mendalami apakah ada faktor pemicu lain, seperti masalah ekonomi atau gangguan mental, yang mendorong Tuyen bertindak nekat.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: bagaimana negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat memperkuat sistem perlindungan korban dan mencegah kekerasan domestik sebelum berujung pada nyawa melayang? Tanpa perubahan signifikan dalam budaya dan kebijakan, tragedi serupa mungkin akan terus terulang.



