Mantan Petarung UFC Dustin Poirier Ditangkap, Akui Butuh Bantuan
Baca dalam 60 detik
- Dustin Poirier ditangkap polisi Atlanta atas dugaan mabuk di tempat umum, lalu dibebaskan dengan jaminan.
- Dalam video kamera tubuh, Poirier sempat menantang polisi berkelahi sebelum akhirnya tenang dan mengakui kesalahan.
- Poirier mengaku kesulitan beradaptasi setelah pensiun dari UFC dan berkomitmen mengatasi masalah alkohol demi keluarga.

Dustin Poirier, mantan juara interim kelas ringan UFC yang pensiun tahun lalu, ditangkap polisi Atlanta, Georgia, atas dugaan mabuk di tempat umum. Dalam pernyataan di Instagram, ia mengakui bahwa masa pensiun tidak mudah dan ia membutuhkan bantuan untuk mengatasi ketergantungan alkohol.
Poirier, 37 tahun, diamankan aparat di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta pekan ini dan kemudian dibebaskan dengan jaminan. Rekaman kamera tubuh yang dirilis polisi memperlihatkan Poirier dalam keadaan gelisah setelah mengaku diturunkan paksa dari pesawat. Ia sempat melontarkan ancaman dan kata-kata kasar kepada petugas, bahkan menantang berkelahi sambil bertanya apakah akan disetrum.
Namun, ketegangan mereda saat petugas lain tiba. Poirier justru meninju tangan polisi yang merekam insiden itu dan memuji kinerjanya. Sikap yang berubah drastis ini menunjukkan sisi lain dari seorang atlet yang selama 16 tahun dikenal sebagai petarung tangguh di oktagon.
Dalam unggahan Instagram, Poirier mengungkapkan bahwa alkohol telah menghancurkan hidup ayahnya dan ia tidak ingin hal serupa menimpa dirinya. โSaya di titik di mana saya butuh bantuan. Meninggalkan pertarungan tidak mudah bagi saya, dan alkohol bukan jawabannya,โ tulisnya. Ia bertekad mengembalikan kondisi mentalnya demi keluarga.
Poirier pensiun sebagai salah satu petarung paling dihormati di UFC, meski tidak pernah menyandang gelar juara dunia tak terbantahkan. Selain prestasi di oktagon, ia juga dikenal lewat kegiatan amal untuk anak-anak di Louisiana, negara bagian asalnya. Sejak pensiun, ia rutin menjadi analis di siaran UFC.
Kasus ini mengingatkan pada tantangan transisi yang dihadapi banyak atlet pasca-pensiun, termasuk di Indonesia. Tekanan untuk tetap relevan dan kehilangan rutinitas kompetitif sering memicu masalah kesehatan mental. Dukungan psikologis dan komunitas menjadi krusial agar para mantan atlet tidak terjerumus ke perilaku destruktif.
Pertanyaan besarnya, apakah langkah Poirier mencari bantuan cukup untuk menghindari hukuman penjara? Atau akankah pengadilan Georgia mempertimbangkan statusnya sebagai publik figur dan niat baiknya untuk berubah?



