Lab Forensik Audio Jepang Ciptakan Lagu Penidur Bayi, Raup Jutaan Penonton
Baca dalam 60 detik
- Lembaga analisis audio di Jepang yang biasa menangani barang bukti pengadilan merilis lagu 14 menit untuk menidurkan bayi, viral dengan 3,8 juta tayangan di X.
- Lagu tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kasus kekerasan anak akibat stres pengasuhan, menggabungkan nada kotak musik dan pink noise.
- Dalam dua pekan, situs lab dikunjungi 350.000 orang; lagu bisa diunduh gratis hingga akhir Juni 2026.

Laboratorium analisis audio di Chiba, Jepang, yang selama ini dikenal sebagai penyedia barang bukti suara untuk persidangan, mendadak menjadi perbincangan setelah merilis komposisi musik penidur bayi yang viral. Lagu berdurasi sekitar 14 menit itu telah ditonton lebih dari 3,8 juta kali di platform X dan menarik sekitar 350.000 pengunjung ke situs lembaga tersebut hanya dalam dua pekan sejak diperkenalkan.
Ide awal proyek ini muncul dari keprihatinan Mutsutoshi Muraoka, direktur Institute of Audio Communication Laboratory Chiba, yang kerap menemukan kasus kekerasan anak terkait stres, depresi, dan gangguan saraf dalam pekerjaannya menganalisis audio untuk pengadilan. โSaya ingin membantu orang tua atau pekerja penitipan anak yang butuh istirahat, meski hanya 30 menit,โ ujar Muraoka.
Muraoka kemudian dihubungi oleh sebuah stasiun televisi untuk menciptakan suara yang dapat membantu bayi tidur. Ia meneliti kembali studi tentang tidur dan suara, bereksperimen dengan berbagai alat musik, bahkan merekam suara napasnya sendiri saat tidur. Hasilnya, ia menemukan kombinasi nada tinggi khas kotak musik yang bisa diputar lewat ponsel dan โpink noiseโ โ suara yang menyerupai deburan ombak serta napas ibu saat tidur.
Setelah Muraoka menentukan parameter seperti tempo dan rentang nada, staf laboratorium Shinsuke Shibutani menggubah musik tersebut hanya dalam tiga hari. Meski demikian, Muraoka mengingatkan bahwa tidak semua bayi akan tertidur dengan lagu ini.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana angka kekerasan pada anak akibat stres pengasuhan juga menjadi perhatian. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan fisik dan psikis pada anak kerap dipicu oleh tekanan ekonomi dan kelelahan orang tua. Inovasi seperti lagu penidur bayi bisa menjadi alternatif sederhana yang murah dan mudah diakses, terutama bagi keluarga muda yang tinggal di perkotaan dengan tingkat stres tinggi.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa efektivitas terapi suara bersifat subjektif. Psikolog anak dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa suara menenangkan memang dapat membantu, tetapi tidak menggantikan interaksi langsung orang tua. โYang terpenting adalah konsistensi rutinitas tidur dan respons orang tua terhadap kebutuhan bayi,โ ujarnya.
Ke depan, Muraoka berencana mengembangkan lebih banyak varian suara berdasarkan respons pendengar. Pertanyaannya, akankah pendekatan berbasis bukti forensik ini mampu mengubah cara masyarakat menangani masalah tidur bayi, atau hanya akan menjadi tren sesaat?



