Prancis Waspadai Perlawanan Irak: Laga Hidup Mati di Grup I
Baca dalam 60 detik
- Timnas Prancis bersiap menghadapi Irak yang terpojok setelah kalah di laga perdana, dengan bek William Saliba mengingatkan bahwa lawan bukan tim lemah.
- Irak, yang belum pernah menang di Piala Dunia, menunjukkan ketangguhan dengan menahan imbang Spanyol di laga uji coba dan melewati 21 laga kualifikasi.
- Kondisi lapangan di Philadelphia menjadi sorotan setelah kritik keras pemain Prancis terhadap kualitas rumput di stadion sebelumnya.

WALTHAM — Tim nasional Prancis, yang di atas kertas jauh lebih diunggulkan, justru bersiap menghadapi perlawanan sengit saat berjumpa Irak pada laga kedua Grup I Piala Dunia, Senin (21/6) waktu setempat. Bek Les Bleus, William Saliba, menegaskan bahwa tekanan justru berada di pundak timnya karena Irak dalam posisi terpojok setelah kalah di pertandingan pembuka.
Prancis mengawali turnamen dengan kemenangan 3-1 atas Senegal, sementara Irak harus mengakui keunggulan Norwegia 1-4 meski sempat unggul lebih dulu. Kekalahan itu membuat Irak berada di tepi jurang: jika kembali tumbang, peluang lolos ke fase gugur hampir mustahil. Situasi inilah yang diyakini Saliba akan memicu reaksi berbeda dari tim lawan.
“Mereka punya tim yang bagus dan ini tidak akan mudah meski banyak orang mengira sebaliknya,” ujar Saliba dalam konferensi pers, Sabtu (19/6). “Irak lolos setelah mengalahkan Bolivia, mereka juga sempat menahan imbang Spanyol. Kami memperkirakan pertarungan besar.”
Bek kiri Prancis, Lucas Digne, juga mewaspadai determinasi tinggi Irak. “Mereka bermain untuk bertahan hidup di kompetisi ini, jadi laga akan sangat fisik dan intens,” katanya. Digne menambahkan bahwa Prancis sudah mempelajari formasi 4-4-2 yang kerap digunakan Irak dengan dua penyerang cepat. “Permainan mereka sangat langsung. Kami harus siap menghadapi itu.”
Catatan historis Irak memang tidak mentereng. Satu-satunya penampilan mereka di Piala Dunia terjadi pada 1986, dan saat itu mereka kalah di semua pertandingan grup. Namun, dalam laga uji coba menjelang turnamen, Irak sukses menahan imbang Spanyol 1-1—sebuah hasil yang membuat banyak pengamat terkejut. Fakta itu menjadi peringatan bagi Prancis bahwa Irak bukan tim yang bisa diremehkan begitu saja.
Di sisi lain, kondisi lapangan Stadion Philadelphia juga menjadi perhatian. Pada laga pertama melawan Senegal di Stadion New York/New Jersey, para pemain Prancis mengeluhkan kualitas rumput yang terasa keras dan seperti sintetis. Saliba menyebut permukaan lapangan “tidak top” meski mengakui hal sama dialami kedua tim. “Saya agak terkejut dengan kualitas lapangan. Terasa seperti rumput buatan dan keras, tapi kami tetap harus bermain. Jelas rumputnya tidak bagus,” katanya. Timnya berharap lapangan di Philadelphia lebih baik.
Pertandingan ini juga menarik disimak dari sudut pandang sepak bola Asia, termasuk Indonesia. Irak merupakan salah satu wakil Asia yang berhasil menembus Piala Dunia setelah melewati jalan panjang. Keberhasilan mereka mengalahkan Bolivia di play-off antarbenua membuktikan bahwa sepak bola Asia terus berkembang. Bagi Indonesia, yang masih berjuang untuk tampil di Piala Dunia, perjalanan Irak bisa menjadi cermin bahwa dengan kerja keras dan konsistensi, peluang itu bukan sekadar mimpi.
Prancis kini memuncaki klasemen Grup I dengan tiga poin, unggul selisih gol atas Norwegia yang juga mengoleksi tiga poin. Irak berada di dasar klasemen tanpa poin. Jika Prancis menang, mereka akan melangkah ke babak 16 besar, sementara Irak harus menang untuk menjaga asa. Pertanyaannya, akankah Irak mampu menulis sejarah pertamanya di Piala Dunia, atau Prancis akan kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia?



