Larin Bungkam Kritik, Kanada di Ambang Sejarah Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Cyle Larin mencetak gol dalam dua laga awal Kanada di Piala Dunia 2026, membantu tim meraih kemenangan perdana.
- Penyerang Southampton itu mendedikasikan selebrasi 'tutup telinga' untuk merespons keraguan terhadap tempatnya di timnas.
- Kanada hanya butuh satu poin melawan Swiss untuk memuncaki grup dan melanjutkan perjalanan di Vancouver.

Kanada belum pernah semanis ini di pentas Piala Dunia. Kemenangan bersejarah 6-0 atas Qatar di Vancouver bukan sekadar tiga poin, melainkan deklarasi bahwa sepak bola di Negeri Maple Leaf tak lagi sekadar pelengkap. Di balik euforia itu, ada nama Cyle Larin—pemain yang memilih membungkam kritik dengan gol, bukan kata-kata.
Dua gol dalam dua laga awal Grup B menjadi jawaban Larin atas pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih layak menjadi ujung tombak timnas? Penyerang 31 tahun itu mengaku selebrasi khasnya—berdiri tegak dengan jari di telinga—adalah pesan langsung untuk para peragu. “Itu untuk mereka yang meragukan saya,” katanya kepada FIFA. “Saya sudah menunjukkan kemampuan sejak lama, dan terus melakukannya di Piala Dunia ini.”
Larin bukan satu-satunya produk St. Edmund Campion High School yang bersinar. Bersama Tajon Buchanan dan Jonathan Osorio, trio lulusan sekolah di Greater Toronto Area itu menjadi tulang punggung skuad asuhan Jesse Marsch. Fakta bahwa tiga pemain kunci berasal dari satu sekolah menengah menunjukkan betapa suburnya bakat di wilayah tersebut—sebuah fenomena yang jarang terjadi bahkan di negara dengan tradisi sepak bola kuat sekalipun.
Kemenangan perdana Kanada di Piala Dunia itu, menurut Larin, bisa mengubah cara pandang publik negaranya terhadap sepak bola. “Kemenangan itu sangat berarti. Cara kami bermain, gol-gol yang kami cetak, dan dukungan suporter—semua menunjukkan siapa kami,” ujarnya. Ia mengingat masa kecilnya ketika sepak bola hanya menjadi tontonan saat jam istirahat sekolah. Kini, ia menjadi bagian dari tim yang menginspirasi generasi baru.
Bagi Indonesia, kisah Larin dan Kanada memberikan pelajaran berharga. Negara dengan populasi besar dan cuaca ekstrem mampu melahirkan pemain kelas dunia dari sekolah-sekolah biasa. Sistem pembinaan usia muda yang konsisten, ditambah dengan kompetisi domestik yang kompetitif, menjadi kunci. Kanada tidak memiliki sejarah panjang di Piala Dunia, tetapi kerja keras dan kepercayaan pada pemain muda membuahkan hasil. Ini bisa menjadi cermin bagi pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah berbenah.
Larin sendiri mengakui bahwa performa apiknya tak lepas dari kondisi fisik yang prima dan kepercayaan diri yang terjaga. “Beberapa bulan terakhir saya terus mencetak gol. Itu karena saya merasa bugar dan percaya diri,” tambahnya. Musim lalu bersama Southampton, ia mencetak gol rata-rata setiap dua pertandingan—catatan yang membuatnya tetap diandalkan meski usia tak lagi muda.
Laga penentu melawan Swiss di BC Place, Vancouver, akan menjadi ujian sesungguhnya. Satu poin sudah cukup bagi Kanada untuk memuncaki grup dan tetap bermain di Vancouver hingga babak 16 besar. Bagi Larin, ini adalah kesempatan emas untuk membungkam kritik selamanya dan menorehkan namanya dalam sejarah sepak bola Kanada. Pertanyaannya, mampukah ia dan timnya menjaga konsistensi di panggung terbesar?



