Pegula Hentikan Langkah Sabalenka di Berlin: Kekalahan Set Penentu yang Kembali Menghantui
Baca dalam 60 detik
- Jessica Pegula mengalahkan Aryna Sabalenka 6-4, 6-7, 6-0 di semifinal Berlin Open, memutus tren negatif lima kekalahan beruntun dari petenis nomor satu dunia itu.
- Sabalenka kembali kehilangan set penentu tanpa satu game pun, mengulangi pola yang sama seperti saat tersingkir di perempat final Prancis Terbuka.
- Pegula akan menghadapi Linda Noskova di final, sementara kekalahan ini menjadi peringatan bagi Sabalenka menjelang Wimbledon yang dimulai 29 Juni.

Jessica Pegula memastikan tempatnya di final Berlin Open setelah mengalahkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka dalam pertarungan tiga set yang menegangkan, 6-4, 6-7 (4-7), 6-0, Sabtu (22/6) waktu setempat. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Sabalenka yang kembali gagal mempertahankan konsistensi di set penentu.
Pegula, yang sebelumnya kalah dalam lima dari enam pertemuan terakhir melawan Sabalenka, tampil dengan permainan agresif dan pengembalian servis yang mematikan. Petenis Amerika Serikat berusia 32 tahun itu mampu bangkit setelah kehilangan set kedua ketat, dan mendominasi set ketiga tanpa memberikan satu game pun kepada lawannya. "Dia keluar dan memukul banyak winner, saya bilang pada diri sendiri, 'Sepertinya saya ingin menang dengan cara sulit juga'," ujar Pegula seusai pertandingan.
Bagi Sabalenka, kekalahan ini mengingatkan pada kegagalan di Prancis Terbuka bulan lalu, di mana ia juga kehilangan set penentu dengan skor 6-0 setelah unggul satu set dan break ganda. Di Berlin, petenis Belarusia itu mencatatkan 41 kesalahan sendiri (unforced errors) berbanding 25 milik Pegula, serta sembilan kali double fault dengan persentase servis pertama hanya 62 persen. Meskipun tidak sebanyak kesalahan di Paris, Sabalenka kembali kehilangan kendali saat pertandingan memasuki fase kritis.
Pertandingan sempat tertunda satu jam karena hujan saat Pegula memimpin 3-1 di tie-break set kedua. Setelah jeda, Sabalenka memenangkan enam dari tujuh poin berikutnya untuk memaksa set ketiga. Namun, momentum itu langsung direbut Pegula yang tampil tanpa ampun di set penentu.
Pegula akan berhadapan dengan Linda Noskova dari Republik Ceko di final, setelah Noskova mengalahkan Alexandra Eala dari Filipina 6-2, 6-4. Sementara itu, kekalahan ini menjadi alarm bagi Sabalenka menjelang Wimbledon yang akan dimulai pada 29 Juni. Meskipun diunggulkan sebagai salah satu favorit, catatannya di lapangan rumput masih perlu dipertanyakan: ia hanya sekali mengalahkan pemain top-10 dalam lima percobaan di permukaan ini.
Di turnamen lain, Emma Navarro melanjutkan kebangkitannya dengan mencapai final Nottingham Open. Petenis Amerika yang sempat berada di peringkat 10 besar dunia pada 2024 itu sempat mengalami masa sulit dengan sembilan kekalahan dalam 13 pertandingan awal tahun ini. Setelah mengambil jeda karena masalah kesehatan, Navarro memenangkan Strasbourg Open pada Mei dan kini melaju ke final kedua musim ini setelah mengalahkan Viktorija Golubic 7-6 (7-5), 6-2. Ia akan berhadapan dengan Marie Bouzkova dari Ceko, yang mengalahkan mantan nomor satu dunia Karolina Pliskova 6-4, 6-1 untuk mencapai final tunggal rumput pertamanya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Pegula yang tenang dan efisien menjadi contoh bahwa konsistensi dan ketenangan mental bisa mengalahkan kekuatan fisik. Sementara itu, kegagalan Sabalenka di set penentu kembali menjadi perhatian: mampukah ia memperbaiki kelemahan mental ini sebelum Wimbledon? Atau justru Pegula yang akan menjadi ancaman serius di lapangan rumput?



