Esther Adeshina: Petenis Inggris di Ambang Mimpi Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris berusia 24 tahun, Esther Adeshina, hanya butuh dua kemenangan lagi untuk menembus babak utama Wimbledon setelah menaklukkan mantan pemain top-50 Jepang di babak kualifikasi.
- Kemenangan dramatis tiga set atas Moyuka Uchijima menjadi pencapaian terbesar dalam karier Adeshina, yang kini akan berhadapan dengan Harmony Tan, pemukul legenda Serena Williams.
- Kisah Adeshina menyoroti perjuangan petenis peringkat bawah untuk meraih mimpi di turnamen Grand Slam, mengingatkan pada perjalanan petenis Indonesia yang jarang mendapat sorotan.

Petenis Inggris Esther Adeshina hanya berjarak dua kemenangan dari mimpi tampil di babak utama Wimbledon setelah meraih kemenangan terbesar dalam kariernya. Dalam laga kualifikasi yang berlangsung di Roehampton, Adeshina mengalahkan mantan pemain top-50 dunia asal Jepang, Moyuka Uchijima, dengan skor 6-1, 3-6, 7-5, dalam pertandingan hampir dua jam di bawah terik matahari.
Peringkat 514 dunia itu mengaku pertandingan tersebut terasa seperti mimpi. "Saya hanya berpikir satu poin demi satu poin. Saya sering melirik ke arah tim saya, mencoba bernapas dan menikmati momen," ujarnya. "Menjadi petenis Inggris dan bermain di rumah sendiri sangat berarti. Saya sudah datang menonton Wimbledon sejak kecil โ ini mimpi yang menjadi kenyataan."
Kemenangan ini membawa Adeshina ke babak selanjutnya, di mana ia akan menghadapi Harmony Tan dari Prancis. Tan dikenal luas setelah mengalahkan Serena Williams dalam perjalanannya ke babak keempat Wimbledon pada 2022. Laga ini menjadi ujian berat bagi Adeshina yang berstatus underdog.
Sementara itu, petenis muda Inggris lainnya, Daniella Britton yang baru berusia 15 tahun, harus mengakui keunggulan Julia Riera dari Argentina dengan skor 2-6, 6-2, 6-4. Britton mendapat wildcard kualifikasi setelah memenangi kejuaraan nasional kelompok umur U-16 dan U-18. Meski kalah, pencapaiannya menunjukkan potensi besar petenis muda Inggris.
Di Eastbourne, petenis kualifikasi Inggris Giles Hussey mengejutkan semifinalis Prancis Terbuka Matteo Arnaldi. Hussey yang berperingkat 293 dunia menang 6-4, 6-2 atas Arnaldi yang menempati peringkat 30 dunia. Kemenangan ini menjadi yang terbesar bagi Hussey, yang baru memenangi gelar Challenger pertamanya di Afrika Selatan bulan lalu. Ia akan berhadapan dengan Quentin Halys dari Prancis di babak berikutnya.
Di nomor ganda putra, petenis Inggris Joe Salisbury bersama pasangannya asal Amerika Serikat, Rajeev Ram, memenangi pertandingan pertama mereka setelah bersatu kembali. Pasangan yang telah memenangi empat gelar mayor bersama ini mengalahkan ganda Prancis Terence Atmane dan Luca Sanchez dengan skor 6-1, 6-3.
Kisah Adeshina dan Hussey menjadi pengingat bahwa jalan menuju Grand Slam penuh dengan perjuangan, terutama bagi petenis peringkat bawah. Di Indonesia, petenis seperti Aldila Sutjiadi dan Christopher Rungkat juga harus melalui jalan panjang untuk bisa bersaing di level tertinggi. Minimnya turnamen internasional dan dukungan sponsor sering menjadi kendala. Namun, semangat para petenis ini membuktikan bahwa mimpi untuk tampil di Wimbledon tetap hidup.
Pertanyaan selanjutnya: mampukah Adeshina melewati hadangan Harmony Tan dan mewujudkan mimpinya? Ataukah kisahnya akan berakhir seperti banyak petenis kualifikasi lainnya yang hanya menjadi catatan kaki? Wimbledon selalu penuh kejutan, dan perjalanan Adeshina baru saja dimulai.



