Lithium Dosis Rendah: Senjata Baru Melawan Alzheimer yang Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Studi di JAMA Psychiatry mengusulkan lithium dosis rendah sebagai terapi potensial untuk Alzheimer, memanfaatkan efek neuroprotektifnya tanpa efek samping berat.
- Lithium bekerja pada banyak jalur biologis, termasuk meningkatkan BDNF dan menghambat GSK-3, yang dapat memperlambat kerusakan otak pada demensia.
- Para ahli menyerukan uji klinis acak terkontrol plasebo untuk memvalidasi keamanan dan efektivitas lithium dosis rendah pada pasien tahap awal Alzheimer.

Lebih dari tiga dekade setelah lithium dikenal sebagai obat gangguan bipolar, para peneliti kembali melirik senyawa ini sebagai kandidat potensial untuk memperlambat progresivitas Alzheimer. Sebuah ulasan komprehensif yang diterbitkan di JAMA Psychiatry mengemukakan bahwa lithium dosis rendah—jauh di bawah dosis psikiatri standar—mungkin mampu melindungi sel-sel otak dari kerusakan yang terkait dengan demensia.
Alzheimer saat ini mempengaruhi sekitar 32 juta orang di seluruh dunia, dan angka itu diperkirakan melonjak menjadi 152 juta pada 2050. Sayangnya, obat yang ada hanya bersifat simptomatik atau bekerja pada satu jalur patologis, seperti membersihkan plak amiloid. Padahal, Alzheimer melibatkan kaskade kerusakan seluler yang kompleks, termasuk disfungsi mitokondria, stres oksidatif, dan hilangnya koneksi sinaptik.
Husseini K Manji, MD, FRCPC, profesor di Oxford dan Yale yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa lithium bekerja sebagai "saklar utama" yang mengaktifkan sistem pertahanan seluler otak. "Lithium meningkatkan produksi BDNF, menghambat enzim berbahaya, dan memperbaiki metabolisme energi sel," ujarnya. Efek ini, menurut Manji, dapat memperlambat apa yang disebut neuroprogression—proses penyusutan dan kerusakan struktural otak yang terjadi secara kumulatif.
Keunggulan utama lithium dosis rendah adalah profil keamanannya. Dosis psikiatri tradisional seringkali tidak ditoleransi oleh lansia karena risiko toksisitas ginjal dan tiroid. Namun, penelitian Manji dan laboratorium independen lain menunjukkan bahwa efek neurotropik lithium sudah terlihat pada kadar yang jauh lebih rendah, sehingga efek samping berkurang drastis. "Ini membuka pintu menuju senjata yang terjangkau dan mudah diakses dalam perang global melawan Alzheimer," kata Manji.
Laura Nisenbaum, PhD, direktur eksekutif pengembangan obat di Alzheimer's Drug Discovery Foundation (ADDF), menyebut ulasan ini menarik karena menyatukan lebih dari dua dekade bukti dari berbagai laboratorium. "Lithium tampaknya bekerja pada beberapa proses biologis sentral Alzheimer, termasuk pembersihan protein, fungsi mitokondria, dan patologi tau. Profil multi-target ini signifikan karena Alzheimer bukan penyakit jalur tunggal," jelasnya. Nisenbaum menekankan bahwa obat repurposed seperti lithium layak dipertimbangkan secara serius karena sejarah klinisnya yang panjang dan profil keamanan yang dipahami dengan baik pada dosis rendah.
Namun, para dokter mengingatkan agar tidak terburu-buru. Dung Trinh, MD, internis dan kepala medis Healthy Brain Clinic di California, menyatakan optimisme hati-hati. "Ini belum menjadi temuan yang mengubah praktik. Saya tidak akan merekomendasikan pasien memulai lithium sendiri, terutama karena dapat memengaruhi fungsi ginjal dan tiroid serta berinteraksi dengan obat lain," katanya. Trinh menekankan bahwa studi ini paling baik dilihat sebagai justifikasi kuat untuk uji klinis yang ketat, bukan bukti bahwa lithium harus digunakan secara rutin.
Bagi Indonesia, temuan ini membawa harapan sekaligus tantangan. Dengan populasi lansia yang terus bertambah, beban demensia diproyeksikan meningkat signifikan. Lithium, sebagai obat generik yang murah, bisa menjadi opsi terjangkau dibandingkan terapi antibodi monoklonal yang mahal. Namun, infrastruktur pemantauan fungsi ginjal dan tiroid perlu diperkuat, dan uji klinis lokal diperlukan untuk memastikan efektivitas pada populasi Asia.
Langkah selanjutnya, menurut para ahli, adalah uji klinis acak terkontrol plasebo pada pasien dengan gangguan kognitif ringan atau Alzheimer awal yang dikonfirmasi biomarker. Desain uji harus mencakup pemantauan ketat fungsi ginjal dan tiroid, serta hasil yang melampaui tes memori, seperti biomarker amiloid, tau, perubahan MRI, fungsi harian, dan kualitas hidup. Pertanyaan kuncinya: dapatkah lithium dosis rendah memberikan manfaat otak yang berarti sambil tetap aman bagi lansia dalam jangka panjang?



