Wacana 64 Tim di Piala Dunia: Peluang Indonesia Makin Terbuka, Target 2030 atau 2034
Baca dalam 60 detik
- PSSI melaporkan progres Timnas Indonesia ke Presiden Prabowo, termasuk kenaikan peringkat FIFA dan target lolos Piala Dunia.
- Wacana penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim pada edisi 2030 atau 2034 dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia.
- Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan menilai jika format 64 tim diterapkan, jatah Asia akan bertambah sehingga kans Indonesia lolos semakin nyata.

Peluang Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia semakin nyata setelah PSSI menggelar pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, pada akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PSSI Erick Thohir yang didampingi pelatih John Herdman melaporkan perkembangan signifikan skuad Garuda, termasuk kenaikan peringkat FIFA dari 122 ke 118 dunia setelah memenangkan dua laga FIFA Matchday melawan Oman dan Mozambik. Presiden Prabowo menyambut positif laporan tersebut dan berjanji memberikan dukungan penuh terhadap misi lolos ke Piala Dunia 2030.
Di tengah optimisme itu, wacana perubahan format Piala Dunia menjadi 64 peserta pada edisi 2030 atau 2034 menjadi angin segar bagi Indonesia. Saat ini, Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sudah memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Kini, rumor yang beredar di kalangan FIFA menyebutkan kemungkinan penambahan lagi menjadi 64 tim, yang akan membagi turnamen menjadi 16 grup masing-masing berisi empat tim.
Pengamat sepak bola nasional Ronny Pangemanan, yang akrab disapa Bung Ropan, menilai wacana ini sangat menguntungkan bagi Indonesia. "Kalau 64 tim, jatah Asia pasti bertambah. Indonesia yang sudah sampai putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 punya modal bagus. Bukan tidak mungkin kita lolos di edisi 2030 atau 2034," ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya. Ia mencontohkan empat negara debutan di Piala Dunia 2026—Curaçao, Uzbekistan, Yordania, dan Tanjung Verde—yang berhasil lolos berkat perluasan peserta.
Bagi Indonesia, peluang ini tidak datang begitu saja. PSSI telah menggeber program naturalisasi pemain keturunan seperti Jay Idzes, Ragnar Oratmangoen, dan lainnya untuk memperkuat skuad. John Herdman, pelatih asal Inggris yang ditunjuk sejak Januari 2025, dinilai berhasil membangun permainan kolektif yang solid. Selain target Piala Dunia 2030, PSSI juga menyiapkan agenda jangka pendek seperti Piala AFF 2026, FIFA ASEAN Cup, dan Piala Asia 2027 sebagai batu loncatan.
Namun, wacana format 64 tim masih sebatas rumor dan belum ada keputusan resmi dari FIFA. Ronny Pangemanan mengingatkan bahwa perubahan format membutuhkan persetujuan Dewan FIFA dan pertimbangan jadwal yang padat. "Kita belum tahu ini akan diterapkan pada Piala Dunia kapan. Tapi kalau benar terjadi, Indonesia harus siap dari sekarang," katanya. Ia menambahkan bahwa jika format 64 tim terwujud, kemungkinan hanya juara dan runner-up grup yang lolos ke fase gugur, tanpa memperhitungkan peringkat ketiga terbaik.
Pertanyaan besarnya, apakah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini? Dengan dukungan penuh pemerintah, peningkatan kualitas pemain, dan potensi tambahan jatah Asia, target tampil di Piala Dunia bukan lagi sekadar mimpi. Namun, persaingan di zona Asia tetap ketat—negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Arab Saudi masih menjadi favorit. Indonesia perlu konsisten meraih hasil positif di kualifikasi dan terus membangun kedalaman skuad.



