Aljazair vs Yordania: Laga Hidup Mati di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Aljazair dan Yordania sama-sama kalah di laga perdana Piala Dunia 2026, membuat pertemuan langsung mereka menjadi penentu nasib.
- Yordania, debutan turnamen, harus mengatasi kurangnya pengalaman setelah sempat unggul atas Austria, sementara Aljazair dihajar Argentina 3-0.
- Kekalahan di laga kedua bisa berarti tersingkir lebih awal, tergantung hasil pertandingan lain di grup.

Pertandingan kedua Grup C Piala Dunia 2026 antara Aljazair dan Yordania pada Kamis (20/6) bukan sekadar laga biasa. Bagi kedua tim, ini adalah final awal: kekalahan bisa memupus harapan lolos ke babak gugur sebelum turnamen mencapai pertengahan.
Baik Aljazair maupun Yordania memulai turnamen dengan kekalahan. Yordania, yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia, harus mengakui keunggulan Austria 3-1 setelah sempat menyamakan kedudukan. Sementara Aljazair, yang tampil untuk kelima kalinya, dihancurkan Argentina 3-0 berkat trigol Lionel Messi. Meski kalah dari lawan berat, tekanan kini meningkat drastis.
Pelatih Yordania, Jamal Sellami, mengakui pentingnya laga ini. "Kami menghadapi lawan yang kuat dan luar biasa. Pertandingan pertama sangat berarti karena kami membuat sejarah, tetapi kurangnya pengalaman menjadi faktor penentu," ujarnya dalam konferensi pers. "Sekarang, rasa gugup awal sudah hilang. Pemain lebih percaya diri dan kami masih punya banyak hal untuk ditawarkan."
Di kubu Aljazair, pelatih Vladimir Petkovic juga tidak menampik besarnya tekanan. "Pertandingan ini krusial bagi kedua tim. Tekanannya sama besarnya. Yordania adalah tim yang kompak, konsisten, dan bermain dengan fisik kuat. Tapi kami punya kelebihan sendiri. Kami sudah menganalisis lawan dan mencari solusi untuk menang," tegas Petkovic. Ia menambahkan bahwa Aljazair sudah 12 tahun absen dari Piala Dunia dan bertanggung jawab penuh untuk tampil maksimal.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik karena kedua tim mewakili dua kawasan yang dekat secara geografis dan kultural. Aljazair, dengan sejarah panjang di Piala Dunia, menjadi tolok ukur bagi tim Afrika Utara lainnya. Sementara Yordania, sebagai debutan, menunjukkan bahwa negara Timur Tengah mampu bersaing di panggung global. Pelajaran dari laga ini bisa menjadi inspirasi bagi timnas Indonesia yang juga bermimpi tampil di Piala Dunia.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi para pemain kunci. Aljazair mengandalkan pengalaman pemain seperti Riyad Mahrez, sementara Yordania bertumpu pada semangat juang dan kolektivitas. Siapa pun yang mampu mengelola tekanan dan memanfaatkan peluang akan keluar sebagai pemenang.
Dengan hasil pertandingan lain antara Argentina dan Austria yang belum diketahui, kedua tim sadar bahwa kekalahan bisa berarti tersingkir lebih awal. "Kami akan melakukan segalanya untuk menang," ujar Petkovic. Pertanyaannya, apakah Yordania mampu mengulang kejutan seperti saat lolos kualifikasi, atau Aljazair akan bangkit dan menunjukkan kelasnya?



