Piala Dunia 2026: Deretan Bintang Muda Bersinar di Laga Perdana
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pemain muda tampil gemilang pada putaran pertama Grup Piala Dunia 2026, membuka peluang meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik.
- Nestory Irankunda (Australia) dan Ibrahim Mbaye (Senegal) mencatat rekor sebagai pencetak gol termuda di negaranya dan Afrika.
- Penampilan apik para pemain seperti Alex Freeman (AS) dan Ayyoub Bouaddi (Maroko) menjadi sorotan pelatih dan pengamat.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara baru saja menyelesaikan putaran pertama pertandingan grup, dan sejumlah pemain muda langsung mencuri perhatian. Mereka tidak hanya tampil meyakinkan, tetapi juga mencatatkan rekor serta menjadi kandidat kuat peraih penghargaan FIFA Young Player Award yang dipersembahkan oleh Aramco. Penghargaan ini diberikan kepada pemain terbaik kelahiran 1 Januari 2005 atau setelahnya, berdasarkan penilaian FIFA Technical Study Group.
Salah satu penampilan paling menonjol datang dari Nestory Irankunda, pemain sayap Australia berusia 20 tahun 125 hari. Ia menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Socceroos setelah melesakkan gol indah ke gawang Turki. Gol tersebut bermula dari umpan panjang, kontrol bola yang sempurna, dan akselerasi cepat sebelum melepaskan tembakan rendah yang mematikan. Mantan pelatih Australia, Ange Postecoglou, menyebutnya memiliki "kecepatan fantastis". Irankunda juga dinobatkan sebagai Superior Player of the Match.
Tak kalah menarik, gelandang bertahan Australia lainnya, Okon-Engstler, memberikan assist brilian untuk gol Irankunda. Pemain berusia 21 tahun yang merupakan putra mantan pemain Socceroo Paul Okon ini baru tampil untuk ketujuh kalinya bersama timnas. Umpan terobosannya yang melengkung menjadi ciri khas permainannya. Pelatih Tony Popovic pun menuai pujian karena berani memberikan kepercayaan kepada pemain muda.
Dari kubu Amerika Serikat, Alex Freeman, bek kanan berusia 21 tahun yang merupakan putra mantan bintang NFL Antonio Freeman, tampil impresif saat melawan Paraguay. Bermain untuk Villarreal, ia menunjukkan fisik dan atletisitas yang kuat, serta memberikan assist untuk gol keempat AS. Pelatih Mauricio Pochettino memuji kemampuan Freeman yang bisa bermain sebagai bek ketiga atau maju ke sisi lapangan. "Saat dia memegang bola, tim bisa bernapas lega. Dia sangat kuat," ujar Pochettino.
Maroko juga punya bakat muda bernama Ayyoub Bouaddi. Gelandang tengah berusia 18 tahun ini tampil cerdas, tenang, dan rajin saat melawan Brasil. Pelatih Mohamed Ouahbi mengaku puas dengan penampilannya. Rekan setimnya di Lille, Olivier Giroud, menyebut Bouaddi memiliki kematangan luar biasa. Pemain yang memilih membela Maroko ketimbang Prancis ini menjadi bukti bahwa sepak bola Afrika semakin diperkaya oleh diaspora.
Sementara itu, Pantai Gading memperkenalkan Yan Diomande, pemain termuda mereka di Piala Dunia saat melawan Ekuador. Di usia 19 tahun, ia langsung menjadi Superior Player of the Match berkat permainan briliannya. Pelatih Emerse Fae mengatakan Diomande bisa menyerang, bermain di kedua sisi, dan membuat lawan terus menebak. Dari Norwegia, Antonio Nusa menjadi ancaman konstan di sisi kiri saat melawan Irak. Umpan-umpannya yang memusingkan bek lawan berujung pada gol pembuka Erling Haaland. "Saya suka situasi satu lawan satu, itulah yang paling saya nikmati dalam sepak bola," kata Nusa.
Skotlandia memiliki Ryan Gannon-Doak, pemain sayap lincah yang mampu melewati bek dengan mudah. Ia mencatatkan 'second assist' saat melawan Haiti dan siap berduel dengan Achraf Hakimi. Senegal menemukan pahlawan muda bernama Ibrahim Mbaye, yang pada usia 18 tahun 142 hari menjadi pencetak gol termuda Afrika di Piala Dunia. Golnya ke gawang Prancis datang dari sudut sempit dengan tembakan keras. Kanada juga punya Luc de Fougerolles, bek tengah kelahiran London yang menjadi andalan pelatih Jesse Marsch. Ia dinilai tenang, baik di udara, dan luar biasa dalam menguasai bola.
Ghana memenangkan pertandingan dramatis melawan Panama berkat gol menit ke-95 dari Caleb Yirenkyi. Pemain berusia 20 tahun ini memenangkan duel di area sendiri, lalu berlari dan menyelesaikan serangan balik cepat dengan gol jarak dekat. Penampilan para pemain muda ini menunjukkan bahwa masa depan sepak bola dunia berada di tangan yang tepat. Lamine Yamal, Desire Doue, Arda Guler, dan Kenan Yildiz juga turut menyemarakkan panggung Piala Dunia 2026.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa investasi pada pembinaan usia muda adalah kunci. Dengan banyaknya pemain diaspora yang memilih negara asal orang tuanya, Indonesia pun memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak Maroko atau Senegal. Pertanyaannya, apakah PSSI dan klub-klub Tanah Air siap memoles bakat-bakat muda agar bersinar di panggung dunia seperti para starlet di Piala Dunia 2026?



