Pesta Midsummer Swedia Berubah Nestapa: Dibantai Belanda 5-1 di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Swedia menelan kekalahan telak 5-1 dari Belanda di Piala Dunia 2026, hanya sehari setelah perayaan Midsummer, membuat suporter kecewa.
- Belanda mengeksploitasi kelemahan pertahanan Swedia melalui umpan silang berbahaya, dengan Brobbey dan Gakpo masing-masing mencetak dua gol.
- Kekalahan ini menjatuhkan Swedia ke posisi ketiga Grup F, namun peluang lolos masih terbuka lebar jelang laga melawan Jepang.

Euforia perayaan Midsummer Swedia berubah menjadi kekecewaan mendalam setelah tim nasional mereka dihancurkan Belanda dengan skor 5-1 dalam lanjutan Piala Dunia 2026, Sabtu (20/6) waktu setempat. Kekalahan telak di hadapan sekitar 10.000 suporter yang memadati Stadion Olimpiade Stockholm ini menjadi pukulan berat bagi skuad asuhan Graham Potter, yang sebelumnya memulai turnamen dengan gemilang.
Belanda langsung tancap gas sejak menit awal. Brian Brobbey membuka keunggulan hanya dalam lima menit, memanfaatkan umpan silang yang merobek pertahanan Swedia. Strategi Ronald Koeman terbukti jitu: terus-menerus menusuk dari sisi sayap dan mengirim bola mendatar ke kotak penalti, celah yang gagal ditutup lini belakang Swedia. Brobbey dan Cody Gakpo, yang masing-masing mencetak dua gol, menjadi momok bagi pertahanan tuan rumah.
“Kami kecewa. Tidak ada kemauan, tidak ada semangat—semuanya hambar,” keluh suporter Robin Mert kepada TV4. Satu-satunya hiburan bagi Swedia datang dari gol Anthony Elanga di babak kedua, yang memperkecil kedudukan setelah tertinggal 0-4. Striker Viktor Gyokeres mengakui rasa pahit: “Semua orang harus lebih baik dalam segala hal.”
Pelatih Swedia Graham Potter mengakui bahwa rencana awal timnya hancur setelah kebobolan cepat. “Kami harus mengubah rencana setelah pukulan di menit awal. Istirahat minum pertama membantu kami sedikit menyesuaikan,” ujarnya. Namun, Potter menegaskan bahwa kekalahan ini harus menjadi pelajaran berharga. “Saat hasil bagus, semuanya terasa sempurna. Saat buruk, semua jadi negatif. Itulah sepak bola. Kini kami harus fokus ke laga berikutnya melawan Jepang.”
Bagi Indonesia, pertandingan ini menyajikan tontonan menarik tentang bagaimana tim yang diunggulkan bisa tampil dominan melalui taktik sederhana namun efektif. Belanda menunjukkan bahwa eksploitasi kelemahan lawan secara konsisten—dalam hal ini umpan silang ke kotak penalti—bisa menjadi kunci kemenangan. Pelajaran ini relevan bagi perkembangan sepak bola nasional yang kerap kesulitan menghadapi tim-tim Eropa yang disiplin secara taktik.
Meski tertinggal, Swedia masih memiliki peluang lolos ke babak gugur. Mereka akan menghadapi Jepang di laga pamungkas Grup F, sementara Belanda bertemu Tunisia. Jika Swedia mampu mengalahkan Jepang, mereka bisa lolos sebagai runner-up grup, bergantung pada hasil pertandingan lain. Suporter Caroline Strand optimistis: “Kami akan all out melawan Jepang. Apa pun bisa terjadi, dan kami percaya pada Potter dan para pemain.”
Pertanyaan besarnya: mampukah Swedia bangkit dari keterpurukan ini, atau justru Jepang yang akan memanfaatkan momentum dan melaju ke fase berikutnya? Jawabannya akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



