Piala Dunia 2026 Terancam? Lapangan New York Dikritik Keras Pemain Top
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Prancis Adrien Rabiot dan bintang Brasil Vinicius Junior kompak mengecam kualitas rumput Stadion New York/New Jersey yang dinilai keras dan kering.
- Pelatih Prancis Didier Deschamps menyebut permukaan lapangan seperti beton beralas serat pendek, mengganggu ritme permainan tim.
- Kondisi ini menjadi peringatan dini bagi FIFA jelang final Piala Dunia 2026 di venue yang sama, terutama jika cuaca panas memperparah situasi.
Kekhawatiran serius muncul dari para pemain top dunia mengenai kualitas lapangan Stadion New York/New Jersey yang akan menjadi tuan rumah final Piala Dunia 2026. Gelandang Prancis Adrien Rabiot dan penyerang Brasil Vinicius Junior secara terpisah menyuarakan kritik tajam terhadap permukaan lapangan yang dinilai terlalu keras dan kering, mengancam kualitas pertandingan di ajang sepak bola terbesar dunia.
Usai membawa Prancis menang 3-1 atas Senegal pada laga pembuka Grup I, Rabiot meluapkan kekecewaannya. Menurutnya, lapangan tersebut terasa lebih mirip permukaan sintetis daripada rumput alami. "Saya bahkan tidak yakin bisa menyebutnya lapangan. Terasa sangat keras dan kaku," ujar Rabiot kepada awak media. Kritik serupa sebelumnya dilontarkan Vinicius Junior setelah Brasil ditahan imbang 1-1 oleh Maroko pada laga perdana di stadion yang sama, Sabtu lalu. "Di babak kedua, dengan panas, lapangan mengering sangat cepat. Permainan menjadi lamban dan kami tidak bisa menemukan ritme," keluh pemain Real Madrid itu.
Pelatih Prancis Didier Deschamps turut angkat bicara. Ia menyebut lapangan itu sebagai "permukaan khusus" dan menduga ada lapisan beton di bawah rumput. "Mungkin ada beton di bawahnya, seratnya sangat pendek. Pantulan bolanya juga berbeda," kata Deschamps. Ia menambahkan bahwa timnya masih beradaptasi dengan kondisi tersebut, yang berbeda dari pengalaman mereka di Piala Dunia Antarklub FIFA tahun lalu di stadion yang sama.
Kritik ini menjadi perhatian serius bagi FIFA dan panitia lokal. Final Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung di stadion yang sama, dan jika masalah rumput tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pertandingan puncak. Apalagi, cuaca panas di New York pada musim panas bisa memperparah kondisi lapangan yang cepat kering. Bagi Indonesia, meski tidak terlibat langsung, isu ini relevan mengingat animo tinggi masyarakat terhadap Piala Dunia. Banyak penggemar sepak bola Tanah Air yang menanti turnamen ini, dan kualitas lapangan yang buruk bisa mengurangi kenikmatan menonton.
Para ahli olahraga menilai bahwa rumput hibrida atau sistem pendingin lapangan mungkin diperlukan untuk menjaga kualitas permukaan. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari FIFA mengenai langkah perbaikan. Yang jelas, kritik dari dua pemain bintang ini menjadi alarm dini bahwa persiapan infrastruktur Piala Dunia 2026 masih memiliki pekerjaan rumah besar. Apakah FIFA akan bergerak cepat memperbaiki lapangan, atau membiarkan keluhan berlanjut hingga turnamen utama?



