Dari Zaire hingga Ghana: 10 Jersey Piala Dunia Afrika yang Paling Ikonik
Baca dalam 60 detik
- BBC Sport Africa merilis daftar 10 kostum Piala Dunia paling berkesan dari benua Afrika, mulai dari Zaire 1974 hingga Ghana 2022.
- Jersey Nigeria 2018 menjadi fenomena global dengan antrean panjang pembeli, sementara Kamerun 2002 harus menambahkan lengan karena larangan FIFA.
- Desain sarat makna budaya, seperti laba-laba Ananse di kostum Ghana, menunjukkan bahwa jersey bukan sekadar pakaian olahraga.

Piala Dunia bukan hanya tentang gol, drama, dan emosi—tetapi juga tentang kostum ikonik. Benua Afrika, dengan keberanian dan kekayaan budayanya, telah melahirkan sederet jersey yang tak terlupakan. BBC Sport Africa baru-baru ini merilis daftar 10 kostum terbaik sepanjang masa dari tim-tim Afrika, mengundang penggemar untuk memilih favorit mereka.
Daftar ini membentang dari tahun 1974 hingga 2022, menampilkan desain yang berani dan penuh cerita. Mulai dari Zaire yang menempatkan nama negara dan julukan "Leopards" di dada, hingga Ghana dengan motif laba-laba Ananse yang terinspirasi cerita rakyat. Setiap jersey memiliki narasi unik yang melekat pada momen-momen bersejarah di lapangan hijau.
Salah satu yang paling mencolok adalah kostum Nigeria 2018. Dengan warna hijau neon yang mencolok, jersey ini menjadi fenomena global. Mantan kapten Super Eagles, William Troost-Ekong, menyebutnya sebagai "kostum sepak bola terbaik yang pernah ada". Antrean panjang di toko-toko dan permintaan yang melonjak menunjukkan betapa besarnya dampak desain ini. Uniknya, Nigeria hanya mengenakan jersey tersebut sekali di Piala Dunia, saat mengalahkan Islandia 2-0.
Kamerun 2002 juga tak kalah kontroversial. Awalnya dirancang tanpa lengan, mirip rompi basket, FIFA memaksa tim untuk menambahkan lengan hitam karena dianggap melanggar aturan. Gelandang Eric Djemba-Djemba mengenang momen ketika para pemain melihat kostum itu di ruang ganti: "Kami berkata, 'Wow, ini generasi baru kaus.'" Meski harus dimodifikasi, jersey ini tetap menjadi ikon.
Di sisi lain, Ghana 2010 menyimpan kenangan pahit. Kostum merah-emas yang mencolok dikenakan saat Asamoah Gyan gagal mengeksekusi penalti di menit akhir perpanjangan waktu melawan Uruguay. Michael Essien, legenda tim, mengatakan bahwa setiap kali penggemar melihat jersey itu, mereka langsung teringat pertandingan tersebut. Desainnya yang ketat bahkan membuat Essien bercanda bahwa pemain harus bertubuh atletis untuk terlihat bagus mengenakannya.
Aljazair 1982 juga menarik perhatian. Diproduksi oleh perusahaan milik negara Sonitex yang kini sudah bangkrut, jersey ini menjadi buruan para hipster sepak bola. Karena tidak ada perlindungan hak cipta, banyak perusahaan kecil memproduksi replika dan menjualnya di Aljazair dan diaspora. Jurnalis olahraga Aljazair, Maher Mazahi, menilai inilah yang membuatnya begitu populer.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini mengingatkan bahwa kostum bukan sekadar atribut, melainkan representasi identitas dan sejarah. Di tengah maraknya jersey palsu dan tren fashion sepak bola global, kisah-kisah di balik desain ini bisa menjadi inspirasi bagi para desainer lokal untuk lebih berani mengeksplorasi budaya Nusantara. Apakah suatu saat kita akan melihat jersey Timnas Indonesia yang tak kalah ikonik?
Dari Senegal 2002 yang mengalahkan juara bertahan Prancis, hingga Afrika Selatan 1998 dengan motif geometris Kappa, setiap kostum memiliki cerita. Namun, satu yang pasti: inovasi dan keberanian Afrika dalam berbusana sepak bola telah meninggalkan jejak mendalam di hati para penggemar dunia.



