Diaspora dan Suporter Asing Gantikan Warga Senegal yang Gagal ke Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pembatasan visa AS menghalangi ribuan penggemar Senegal menyaksikan timnya melawan Prancis di Piala Dunia 2026.
- Diaspora Senegal dan pendukung internasional di New York memadati stadion untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan suporter yang terjebak di tanah air.
- Insiden ini menyoroti ketegangan antara janji FIFA tentang keterbukaan dan realitas kebijakan imigrasi AS yang ketat.
Di tengah sorak sorai pendukung yang memadati New York New Jersey Stadium, Selasa (16/6), tim nasional Senegal harus mengakui keunggulan Prancis dengan skor 3-1 pada laga perdana Grup I Piala Dunia 2026. Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya hasil pertandingan, melainkan ketidakhadiran ribuan suporter Senegal yang gagal mendapatkan visa ke Amerika Serikat. Sebagai gantinya, para imigran dan pendukung internasional yang tinggal di AS tampil sebagai 'pengganti' untuk memberikan dukungan moral bagi tim berjuluk Singa Teranga.
Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw, sebelumnya menyatakan optimisme bahwa komunitas Senegal di AS akan bersuara keras di stadion. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa jumlah diaspora Senegal di Negeri Paman Sam relatif kecil dibandingkan dengan komunitas imigran lainnya. Pemerintah AS telah menangguhkan atau membatasi penerbitan visa perjalanan ke 39 negara, termasuk Senegal, Iran, Haiti, dan Pantai Gading—empat di antaranya adalah peserta Piala Dunia. Kebijakan ini merupakan bagian dari kampanye penegakan imigrasi agresif yang diluncurkan Presiden Donald Trump pada masa jabatan keduanya.
FIFA sebenarnya telah berupaya meredam kekhawatiran. Presiden FIFA Gianni Infantino dalam Kongres FIFA Mei 2025 menegaskan, "Dunia diterima di Amerika. Tentu saja para pemain, semua yang terlibat, dan pasti juga semua penggemar." Namun, janji tersebut berbenturan dengan kenyataan pahit. Sebelumnya, AS menolak masuk seorang wasit asal Somalia, dan ketua tim Iran mengecam FIFA atas "kurangnya koordinasi" terkait masalah visa. Ironisnya, Piala Dunia edisi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah dengan tiga negara tuan rumah—AS, Meksiko, dan Kanada—namun akses bagi penggemar dari negara tertentu justru dipersempit.
Bagi Senegal, pertandingan ini memiliki bobot emosional tambahan. Pasalnya, mereka baru saja kehilangan gelar Piala Afrika secara kontroversial yang kemudian diberikan kepada Maroko awal tahun ini. Ketiadaan dukungan langsung dari tanah air menjadi pukulan psikologis tersendiri. "Para pemain pantas mendapatkan basis penggemar mereka untuk mendukung mereka," ujar Ranmalee Dias, warga Manhattan kelahiran Jepang yang telah mendukung Senegal sejak delapan tahun lalu. "Untungnya, kami memiliki Senegal kecil di New York."
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat betapa kebijakan imigrasi suatu negara dapat berdampak langsung pada partisipasi dalam ajang global. Meski Indonesia tidak termasuk dalam daftar 39 negara yang terkena sanksi visa AS, pengalaman Senegal menunjukkan bahwa politik imigrasi bisa menjadi hambatan serius bagi mobilitas penggemar sepak bola. Di masa depan, ketika Indonesia berpotensi menjadi tuan rumah turnamen internasional, isu akses visa bagi suporter asing perlu diantisipasi agar tidak mengurangi kemeriahan dan semangat sportivitas.
Senegal akan menghadapi Norwegia pada Senin (22/6) di stadion yang sama. Pertanyaan yang menggantung: apakah FIFA dan pemerintah AS akan mampu menjembatani kesenjangan antara retorika keterbukaan dan realitas kebijakan imigrasi? Ataukah Piala Dunia 2026 akan terus diwarnai oleh cerita pahit para penggemar yang hanya bisa mendukung dari kejauhan?



