Hervé Renard: Sang Juru Selamat yang Pernah Jadi Tukang Bersih-bersih
Baca dalam 60 detik
- Tunisia menunjuk Hervé Renard sebagai pelatih baru setelah kekalahan telak 1-5 dari Swedia di Piala Dunia 2026, menjadikannya pelatih pertama yang dipecat setelah satu pertandingan.
- Renard, satu-satunya pelatih yang memenangkan Piala Afrika bersama dua negara berbeda, memiliki rekam jejak gemilang namun belum pernah lolos dari fase grup Piala Dunia.
- Dengan dua laga tersisa melawan Jepang dan Belanda, Renard harus segera membenahi pertahanan Tunisia yang rapuh untuk menjaga asa lolos ke babak 32 besar.

Hanya berselang beberapa jam setelah Tunisia dihancurkan Swedia 5-1 di laga perdana Grup F Piala Dunia 2026, Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengambil keputusan drastis: memecat Sabri Lamouchi dan menunjuk Hervé Renard sebagai pelatih anyar. Langkah ini menjadikan Tunisia sebagai negara pertama dalam sejarah Piala Dunia yang memutus kontrak pelatih setelah satu pertandingan.
Renard, 57 tahun, bukanlah nama asing di pentas sepak bola Afrika. Pria Prancis ini adalah satu-satunya pelatih yang sukses mempersembahkan gelar Piala Afrika (Afcon) untuk dua negara berbeda: Zambia pada 2012 dan Pantai Gading pada 2015. Ia juga pernah membawa Arab Saudi menaklukkan Argentina di Piala Dunia 2022, meski Lionel Messi sempat memberi keunggulan awal bagi juara dunia saat itu. Namun, di balik prestasi mentereng itu, Renard memiliki perjalanan karier yang jauh dari gemerlap.
Sebelum menjadi pelatih ternama, Renard pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah kompleks apartemen di Draguignan, Prancis selatan. Ia bangun pukul 02.30 dini hari, membersihkan tempat sampah dan melakukan tugas domestik hingga siang, lalu berlatih bersama klub amatir SC Draguignan pada sore hari. Rutinitas itu dijalaninya selama delapan tahun sambil menempuh lisensi kepelatihan. "Itu adalah sekolah terbaik yang bisa saya dapatkan. Anda harus melewati kegagalan dan masa-masa sulit, tetapi itu membuat Anda lebih kuat," ujarnya dalam wawancara dengan BBC Sport Africa pada 2019.
Kepercayaan diri dan etos kerja keras itulah yang kini coba ditularkan Renard kepada skuad Elang Carthage. Setelah kekalahan memalukan dari Swedia, yang diikuti hasil 0-5 dari Belgia di laga uji coba terakhir, lini belakang Tunisia menjadi prioritas utama perbaikannya. Lamouchi sebelumnya mengakui timnya membuat "terlalu banyak kesalahan" di Monterrey, dan Renard, yang dikenal sebagai disiplinator, langsung memberikan wejangan kepada para pemain: "Angkat kepala kalian tinggi-tinggi. Kalian di sini untuk mewakili negara, Tunisia. Itu kehormatan, itu kewajiban. Kita berutang untuk tampil lebih baik."
Jurnalis olahraga Zambia, Nkweto Tembwe, yang meliput Renard saat menangani Chipolopolo, menggambarkannya sebagai "workaholic" dan "master taktik". "Hervé adalah orang yang sangat fokus dan tahu apa yang diinginkannya. Ia tidak takut untuk terjun langsung dan bekerja. Ia banyak membaca untuk mengikuti tren, dan mempelajari lawan seperti sedang ujian," kata Tembwe. Ia menambahkan bahwa pidato motivasi Renard di babak semifinal Afcon 2012 melawan Ghana menjadi kunci kemenangan Zambia. "Jika Anda mendengarkan pidato semangat Hervé di semifinal melawan Ghana, Anda akan sadar bahwa Zambia memenangkan pertandingan itu di ruang ganti. Kemeja putih terkenal itu bekerja."
Bagi Indonesia, kisah Renard memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kerja keras dan ketekunan. Di tengah gempuran pelatih asing dengan bayaran mahal, Renard membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukanlah halangan untuk mencapai puncak. Namun, tantangan terbesarnya kini adalah membalikkan keadaan Tunisia yang nyaris putus asa. Dengan dua laga hidup mati melawan Jepang dan Belanda, akankah Renard mampu mengulang keajaiban seperti yang ia lakukan bersama Zambia dan Arab Saudi? Atau justru ia akan menambah daftar panjang pelatih yang gagal membawa Tunisia melaju ke fase gugur?



