Afsel Bangkit dari Keterpurukan: Semangat Piala Afrika 2023 Jadi Modal Hadapi Ceko
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 2-0 dari Meksiko di laga pembuka Piala Dunia memicu kritik tajam terhadap performa dan taktik Afsel.
- Winger Thapelo Maseko menyerukan timnya meniru kebangkitan di Piala Afrika 2023, yang berakhir dengan medali perunggu setelah kalah di laga pertama.
- Laga kontra Ceko pada Kamis menjadi ujian berat, mengingat gaya fisik dan keunggulan udara lawan.
Kekalahan telak 2-0 dari tuan rumah Meksiko pada laga perdana Piala Dunia 2026 tidak hanya memupus euforia Afrika Selatan yang baru kembali ke panggung terbesar sepak bola setelah 16 tahun, tetapi juga memicu gelombang kritik pedas di dalam negeri. Kini, skuad Bafana Bafana dituntut segera bangkit saat menghadapi Republik Ceko di Atlanta, Kamis (19/6), dengan semangat kebangkitan serupa yang pernah mereka tunjukkan di Piala Afrika 2023.
Penampilan buruk Afsel saat melawan Meksikoโyang harus bermain dengan sembilan pemain setelah dua kartu merahโmenjadi sorotan tajam. Pelatih asal Belgia, Hugo Broos, pun kebanjiran kritik, mulai dari strategi hingga pemilihan pemain. Situasi ini diperparah oleh hasil gemilang negara-negara Afrika lain seperti Maroko, Pantai Gading, Tanjung Verde, dan Mesir di laga perdana mereka.
Namun, winger Thapelo Maseko menolak larut dalam tekanan. Ia mengingatkan bahwa Afsel pernah berada di posisi serupa pada Piala Afrika 2023, ketika kalah 2-0 dari Mali di laga pembuka, tetapi akhirnya pulang dengan medali perunggu setelah kalah adu penalti dari Nigeria di semifinal. "Orang Afrika Selatan senang saat menang, tapi saat kalah, kami dianggap yang terburuk. Itu fakta," ujar Maseko kepada wartawan. "Kami punya pemain bermental baja. Jika ada yang meragukan tim ini, pikirkan lagi."
Pertandingan melawan Ceko akan menjadi ujian berbeda. Dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan keunggulan duel udara, Ceko diprediksi akan mengandalkan bola-bola panjang dan set piece. Maseko menekankan bahwa Afsel harus meningkatkan intensitas permainan. "Satu hal yang harus kami perbaiki adalah intensitas. Kami harus berlari lebih keras. Itu sudah kami bicarakan sebagai tim," tegasnya.
Bagi Indonesia, perjuangan Afsel ini bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah membangun skuad muda kerap menghadapi kritik serupa setelah hasil minor di turnamen internasional. Mentalitas bangkit dari kekalahan awal, seperti yang ditunjukkan Afsel di Piala Afrika 2023, menjadi kunci untuk bersaing di level tertinggi. Apalagi, Indonesia juga akan menghadapi lawan-lawan fisik di kancah Asia.
Maseko menutup dengan optimisme. "Ini turnamen besar dengan tim-tim besar, tapi kami harus tampil dan menunjukkan bakat kami." Namun, tanpa kemenangan, tekanan terhadap Broos dan skuadnya akan semakin besar. Mampukah Afsel mengulang kisah manis Piala Afrika 2023, atau justru terpuruk lebih dalam?



