Mahalnya Tiket Piala Dunia 2026: Suporter Inggris Terjepit Harga Selangit
Baca dalam 60 detik
- Antara 12.000 hingga 15.000 suporter Inggris diperkirakan hadir di setiap laga grup Piala Dunia 2026, jauh di bawah rekor 350.000 orang pada 2006.
- Harga tiket resmi untuk laga Inggris vs Kroasia mencapai £523, sementara tiket resale melambung hingga £3.671—hampir sepuluh kali lipat harga asli.
- Fenomena ini memicu kekhawatiran bahwa Piala Dunia di Amerika Serikat hanya terjangkau kalangan tertentu, meninggalkan suporter kelas pekerja.

Lebih dari seminggu setelah Piala Dunia 2026 bergulir, Inggris akhirnya memulai kampanye mereka melawan Kroasia di Dallas Stadium, Rabu (17/6)—namun euforia suporter dibayangi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UKFPU) memperkirakan antara 12.000 hingga 15.000 pendukung Three Lions akan hadir di setiap laga grup, angka yang jauh dari rekor 350.000 orang saat turnamen di Jerman 2006.
Ketua kelompok suporter Inggris dari Football Supporters' Association, Thomas Concannon, menilai lonjakan harga tiket menjadi momok utama. Tiket kategori termurah untuk laga pembuka dijual resmi seharga £198, sementara kategori tertinggi mencapai £523—melonjak drastis dibanding harga tiket grup Piala Dunia Qatar 2022 yang hanya £68,50 hingga £219. Di situs resale resmi FIFA, harga semakin tidak masuk akal: tiket supporter standard yang semula £380 kini dipatok £3.192, ditambah biaya FIFA 15% menjadi £3.671.
Fenomena ini memicu kritik dari berbagai kalangan. Michael, suporter asal Inggris yang datang bersama tujuh rekannya, mengaku membayar £850 per tiket. "Itu uang yang banyak, bisa buat season ticket," ujarnya. Ia juga menyoroti harga konsumsi di stadion yang mencapai $20 untuk bir dan $30 untuk makanan. "Rasanya seperti diperas, tapi ini Piala Dunia," tambahnya.
Bagi suporter yang tak kebagian tiket, perjalanan ke Amerika Serikat tetap dilakukan meski tanpa jaminan masuk stadion. Guy dan James dari Newcastle, misalnya, nekat berangkat meski tiket dan hotel mereka batal. "Kami akan ke fan zone, bar, dan berkumpul dengan suporter Inggris," kata James. Ia berharap bisa membeli tiket dengan harga £400-£500, meski peluangnya tipis.
Dampak mahalnya tiket juga terasa di sektor akomodasi dan transportasi. Banyak suporter memilih mengurangi jumlah anggota rombongan karena biaya penerbangan dan hotel yang melambung. Ian, suporter lain, mengaku skeptis dengan jumlah kehadiran Inggris di stadion. "Tidak akan seperti Euro di kandang sendiri atau Afrika Selatan. 80-90% orang sudah dipatok harga di luar jangkauan," keluhnya. Ia berharap ini tidak menjadi preseden buruk untuk turnamen mendatang.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Meski Timnas Indonesia belum lolos ke Piala Dunia, antusiasme masyarakat terhadap turnamen ini tetap tinggi. Harga tiket yang selangit bisa menjadi hambatan bagi suporter Asia yang ingin menyaksikan langsung, terutama jika Piala Dunia 2030 digelar di tiga benua. Pertanyaan besarnya: apakah FIFA akan mengevaluasi kebijakan harga agar Piala Dunia tetap menjadi milik semua kalangan, atau justru semakin eksklusif?



