Lukaku Jadi ‘Pahlawan’ dari Bangku Cadangan, Belgia Tertahan 1-1 Lawan Mesir
Baca dalam 60 detik
- Romelu Lukaku masuk sebagai pemain pengganti dan langsung memicu gol bunuh diri lawan hanya dalam 28 detik, menyelamatkan Belgia dari kekalahan.
- Pelatih Rudi Garcia mengakui Lukaku belum siap tampil penuh karena minim menit bermain di Napoli, namun perannya sebagai supersub sangat vital.
- Hasil imbang ini menjadi peringatan bagi Belgia bahwa tidak ada laga mudah di Piala Dunia, sekaligus ujian kedalaman skuad menghadapi turnamen.

Romelu Lukaku belum genap semenit berada di lapangan saat ia mengubah jalannya pertandingan. Masuk pada menit ke-65, striker Napoli itu langsung memaksa bek Mesir, Mohamed Hany, mencetak gol bunuh diri 28 detik kemudian—sebuah aksi yang mengubah skor menjadi 1-1 dan menyelamatkan Belgia dari kekalahan di laga perdana Piala Dunia.
Hasil imbang ini tentu bukan awal ideal bagi tim berjuluk Setan Merah yang diunggulkan sebagai salah satu kandidat juara. Namun, lebih dari sekadar angka, laga di Stadion Internasional Kairo itu memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan Belgia pada Lukaku—sekaligus betapa rapuhnya kondisi fisik sang bomber.
Gelandang Kevin De Bruyne tidak menutupi kenyataan bahwa timnya tampil di bawah standar pada babak pertama. “Kami tidak dalam performa terbaik di 45 menit awal, tetapi setelah jeda kami menemukan cara berbeda untuk merepotkan mereka,” ujarnya usai pertandingan. De Bruyne menyebut kehadiran Lukaku sebagai “vital” meski gol dicatat sebagai gol bunuh diri. “Kami tahu betapa berbahayanya dia bagi pertahanan lawan,” tambahnya.
Namun, di balik euforia gol penyelamat, Pelatih Rudi Garcia justru memberikan catatan serius. “Dia belum siap untuk memulai pertandingan,” tegas Garcia, yang pernah menangani Napoli dan Roma. “Kami bahkan tidak menyangka dia bisa bersama kami di turnamen ini. Enam puluh empat menit sepanjang satu musim bukanlah persiapan ideal untuk Piala Dunia.” Garcia menambahkan bahwa tubuh Lukaku masih perlu beradaptasi dengan tuntutan kompetisi, meski ia memuji dampak instan yang diberikan pemain 31 tahun itu.
Bagi pengamat sepak bola di Indonesia, situasi ini mengingatkan pada dilema yang kerap dihadapi tim-tim Asia saat bergantung pada pemain bintang yang kurang bugar. Di Piala Dunia 2022, Jepang dan Korea Selatan juga harus mengelola menit bermain pemain kunci mereka yang cedera. Belgia kini menghadapi ujian serupa: apakah akan terus memainkan Lukaku sebagai supersub atau memberinya menit lebih banyak untuk mengembalikan kebugarannya? Satu hal pasti, tanpa kontribusi Lukaku, lini depan Belgia tampak tumpul—sebuah masalah yang harus segera diatasi jika ingin melaju jauh.
Pertandingan melawan Mesir juga menjadi pengingat bahwa tidak ada lawan yang bisa diremehkan. De Bruyne sendiri mengakui, “Jika kita melihat pertandingan lain di Piala Dunia ini, tidak ada yang bisa dianggap mudah.” Belgia masih memiliki dua laga penyisihan grup, dan Garcia harus segera memutuskan apakah Lukaku siap menjadi starter atau tetap menjadi senjata rahasia dari bangku cadangan. Keputusan ini bisa menentukan nasib Setan Merah di turnamen paling bergengsi dunia.



