Piala Dunia 2026: Sindikat Pinjaman Ilegal dan Judi Online Diduga Satu Jaringan
Baca dalam 60 detik
- Praktik pinjaman ilegal dan judi online diyakini dikelola oleh sindikat yang sama, terutama saat ajang olahraga besar seperti Piala Dunia.
- Sejak awal tahun, 159 pengaduan dengan total kerugian hampir RM16 juta telah diterima, dengan bunga pinjaman yang mencapai 21 kali lipat dari pokok.
- Keluarga korban kerap menjadi sasaran intimidasi, termasuk penyebaran data pribadi dan aksi pengecatan rumah dengan cat merah.

Praktik pinjaman ilegal dan perjudian daring di Malaysia diduga dijalankan oleh sindikat yang sama, terutama saat perhelatan besar seperti Piala Dunia 2026. Temuan ini diungkap oleh Wakil Ketua Pemuda MCA, Mike Chong, yang menyebutkan bahwa sebagian besar peminjam yang datang meminta bantuan justru terjerat utang setelah kalah berjudi.
“Situasi diperkirakan akan memburuk selama musim Piala Dunia, ketika penjudi didekati rentenir yang menawarkan pinjaman untuk melunasi utang,” ujar Chong dalam konferensi pers di Wisma MCA, Kuala Lumpur. Ia menambahkan bahwa modus operandi yang digunakan menunjukkan keterkaitan erat antara kedua jenis kejahatan tersebut.
Kepala Departemen Layanan dan Pengaduan Umum MCA, Datuk Seri Michael Chong, menekankan bahwa peminjam juga bertanggung jawab atas risiko yang menimpa anggota keluarga yang tidak bersalah. “Ada kasus di mana rentenir menuntut tambahan RM700 untuk menutup kasus, meskipun peminjam hanya meminjam RM1.000. Saat ditanya, mereka mengklaim uang itu untuk biaya pengecatan rumah korban dengan cat merah,” jelasnya.
Seorang peminjam berusia 29 tahun mengaku terpaksa membayar biaya layanan setelah rumahnya disiram cat merah pada 23 Mei. “Saya tidak mampu membayar pinjaman karena bunganya terlalu tinggi. Sekarang saya juga dipaksa menanggung biaya tambahan akibat insiden cat merah itu,” katanya. Korban lain, Loh, menceritakan keluarganya hidup dalam ketakutan setelah dilecehkan oleh lima rentenir berbeda sejak Mei. Sindikat tersebut menyebarkan data pribadi keluarganya di media sosial dan terus mengancam.
Loh mengungkapkan bahwa saudaranya memiliki kecanduan judi yang sudah berlangsung lama. “Keluarga kami telah menghabiskan 20 tahun terakhir berusaha melunasi utang lebih dari RM200.000 yang dia kumpulkan dari rentenir,” ujarnya. Fenomena ini mengingatkan pada praktik serupa di Indonesia, di mana rentenir ilegal kerap memanfaatkan momen besar seperti Piala Dunia untuk menjerat korban dengan bunga tinggi dan intimidasi. Otoritas Malaysia diimbau untuk memperketat pengawasan dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terjebak dalam lingkaran setan pinjaman ilegal dan judi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana aparat penegak hukum mampu memutus rantai sindikat ini, terutama saat momentum Piala Dunia yang rawan eksploitasi. Tanpa langkah preventif yang tegas, korban baru diprediksi akan terus berjatuhan.



