Ghana Ajukan Gugatan ke Pengadilan Kanada soal Penolakan Visa Thomas Partey
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Ghana secara resmi menggugat keputusan Kanada yang menolak visa gelandang timnas, Thomas Partey, sehingga ia terancam absen di laga pembuka Piala Dunia.
- Kasus visa ini terkait dengan proses pidana yang masih berjalan di Inggris, di mana Partey telah mengaku tidak bersalah atas tuduhan pemerkosaan dan kekerasan seksual.
- Jika gugatan dikabulkan, Partey bisa bergabung dengan skuad Ghana untuk pertandingan melawan Panama, namun proses hukum masih belum jelas kapan selesainya.

Pemerintah Ghana resmi mengajukan permohonan peninjauan kembali ke pengadilan Kanada atas penolakan visa yang dialami gelandang timnas, Thomas Partey, menjelang laga perdana Piala Dunia 2026. Langkah hukum ini diambil setelah otoritas imigrasi Kanada menolak izin masuk bagi pemain berusia 33 tahun itu, yang seharusnya memperkuat The Black Stars dalam pertandingan melawan Panama di Toronto, Rabu (14/6).
Partey, yang kini membela klub Spanyol Villarreal, terancam absen dalam laga pembuka Grup L karena masalah visa yang berakar pada proses hukum di Inggris. Ia telah mengaku tidak bersalah atas tujuh tuduhan pemerkosaan dan satu tuduhan kekerasan seksual yang melibatkan empat perempuan berbeda antara 2020 dan 2022. Sidang perkaranya dijadwalkan berlangsung tahun depan.
Pemerintah Ghana menilai keputusan Kanada sebagai tindakan yang โsewenang-wenang dan sangat tidak adil.โ Dalam gugatan yang akan disidangkan di Ottawa pukul 14.00 BST (09.00 waktu setempat), mereka meminta izin bagi Partey untuk masuk ke Kanada secara singkat demi memperkuat tim. Selain itu, pemerintah Ghana juga mendesak pengadilan agar memerintahkan otoritas imigrasi Kanada menerima permohonan visa baru dari pemain tersebut.
Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, menyatakan bahwa pihaknya juga menjajaki jalur diplomatik untuk mengamankan visa bagi mantan pemain Arsenal itu. โKami tidak akan tinggal diam. Ini menyangkut harga diri bangsa dan hak pemain kami,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Di sisi lain, otoritas imigrasi Kanada melalui pernyataan resmi menegaskan bahwa penyelenggaraan ajang besar tidak mengubah hukum imigrasi negara tersebut. โSetiap orang yang ingin masuk ke Kanada dinilai secara individual berdasarkan fakta dan hukum yang berlaku,โ bunyi pernyataan Immigration, Refugees and Citizenship Canada.
Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, sebelumnya menyatakan tidak ragu memainkan Partey meskipun ada kontroversi di luar lapangan. โSaya fokus pada aspek olahraga. Dia adalah pemain penting bagi kami,โ kata Queiroz. Namun, absennya Partey di laga krusial melawan Panama bisa menjadi pukulan telak bagi ambisi Ghana melaju ke fase gugur.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa kompleksnya regulasi imigrasi di negara tuan rumah Piala Dunia. Meski ajang olahraga seharusnya menjadi pemersatu, nyatanya hukum setempat tetap menjadi penghalang yang tak bisa diabaikan. Ke depannya, apakah FIFA akan mendorong kebijakan visa yang lebih fleksibel bagi pemain yang memiliki catatan hukum? Ataukah setiap negara tetap berhak menolak masuk berdasarkan pertimbangan domestik? Pertanyaan ini layak dijawab oleh para pemangku kepentingan sepak bola global.



