Zaire-Emery dan Kone Siap Menanti: Kedalaman Skuad Jadi Senjata Prancis di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Warren Zaire-Emery dan Manu Kone mengaku siap tampil kapan pun meski diprediksi hanya menjadi cadangan saat Prancis melawan Senegal.
- Kedalaman skuad Prancis, terutama di lini tengah, menjadi faktor kunci bagi Didier Deschamps untuk mempertahankan gelar juara dunia.
- Kone, yang dulu hanya menonton dari kejauhan, kini menjadi bagian dari tim yang berambisi mengulang sukses 2018 di final New York New Jersey.
Warren Zaire-Emery dan Manu Kone, dua gelandang muda Prancis, menyatakan kesabaran mereka menanti kesempatan tampil di Piala Dunia 2026 saat Les Bleus bersiap menghadapi Senegal dalam laga pembuka Grup B, Selasa (10/6) waktu setempat. Meski diprediksi hanya menghangatkan bangku cadangan, keduanya menegaskan komitmen untuk memberikan kontribusi maksimal kapan pun pelatih membutuhkan.
Berdasarkan susunan pemain pada laga uji coba terakhir, Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot dipastikan menjadi duet utama di lini tengah Prancis. Situasi ini membuat Zaire-Emery dan Kone harus rela memulai petualangan Piala Dunia pertama mereka dari bangku cadangan. โJika pelatih memanggil, saya akan siap membantu tim dan memberikan yang terbaik,โ ujar Zaire-Emery, seperti dikutip dari laman resmi FIFA.
Kone, gelandang AS Roma yang kini berusia 25 tahun, menambahkan bahwa ia selalu bersiap meski hanya diberi waktu bermain singkat. โKami harus siap secara mental dan fisik karena turnamen ini seperti maraton, bukan lari cepat. Dibutuhkan kontribusi seluruh skuad,โ jelasnya. Pernyataan ini mencerminkan filosofi pelatih Didier Deschamps yang mengandalkan kedalaman tim untuk melewati jadwal padat Piala Dunia.
Kedalaman skuad Prancis memang menjadi sorotan utama. Selain lini tengah yang dihuni banyak bintang, setiap lini memiliki opsi pelapis berkualitas. Zaire-Emery, yang baru berusia 20 tahun pada Maret lalu, sudah menunjukkan kematangan sebagai pemimpin muda di Paris Saint-Germain. Meski menjadi yang termuda, ia mengaku pengalaman di Euro 2024 membantunya beradaptasi dengan tekanan turnamen besar. โIni adalah kesenangan bisa berada di sini. Saya ingin menikmati setiap momen dan terus menimba pengalaman,โ katanya.
Bagi Kone, perjalanan menuju Piala Dunia ini terasa istimewa. Ia masih ingat saat menyaksikan Paul Pogba tampil gemilang di Piala Dunia 2014, yang menjadi inspirasinya. Delapan tahun lalu, ia ikut merayakan gelar juara Prancis di Champs-รlysรฉes setelah mengalahkan Kroasia. Namun, di Qatar 2022, ia harus menyaksikan dari Jerman saat timnya kalah dramatis dari Argentina. โSekarang saya tidak lagi hanya menonton. Saya ingin menjadi bagian dari tim yang membawa pulang trofi,โ ucapnya penuh semangat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kedalaman skuad Prancis ini menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah membangun fondasi jangka panjang bisa meniru pendekatan Deschamps dalam memadukan pemain muda dan senior. Keberadaan pemain seperti Zaire-Emery yang sabar menunggu giliran menunjukkan bahwa kualitas tim tidak hanya diukur dari starter, tetapi juga dari kesiapan pemain pengganti.
Prancis dijadwalkan menghadapi Senegal di New York New Jersey Stadium. Jika berhasil melewati fase grup, Les Bleus berpotensi melaju hingga final yang akan digelar di stadion yang sama pada 19 Juli. Pertanyaannya, akankah kesabaran Zaire-Emery dan Kone berbuah manis dengan membawa pulang trofi juara?



