Gol Penalti Embolo Tak Cukup: Qatar Paksa Swiss Imbang di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Boualem Khoukhi mencetak gol sundulan pada menit ke-90+4, membawa Qatar meraih poin perdana di Piala Dunia setelah kalah tiga kali pada 2022.
- Swiss mendominasi dengan expected goals 3,28 berkat lini tengah Bundesliga, tetapi kegagalan memanfaatkan peluang membuat mereka kehilangan kemenangan.
- Hasil imbang ini membuka peluang Qatar untuk lolos dari fase grup, sementara Swiss harus waspada dengan ketajaman lawan yang dianggap lebih lemah.

Gol telat Boualem Khoukhi pada menit ke-90+4 memaksa Swiss berbagi angka 1-1 dalam laga perdana Grup B Piala Dunia 2026 di Stadion Levi's, Santa Clara, Minggu (14/6) waktu setempat. Hasil ini menjadi sejarah bagi Qatar yang baru kedua kalinya tampil di putaran final dan berhasil mengamankan poin pertama mereka setelah gagal total sebagai tuan rumah empat tahun lalu.
Swiss unggul lebih dulu melalui penalti Breel Embolo pada menit ke-17 setelah Remo Freuler dijatuhkan kiper Mahmoud Abunada. Eksekusi Embolo yang tenang mengecoh Abunada dan mengarah ke pojok kiri bawah. Namun, dominasi Swiss yang menguasai bola 62% dan melepaskan 19 tembakan (8 tepat sasaran) tak mampu membuahkan kemenangan. Data statistik menunjukkan Swiss memiliki expected goals (xG) 3,28 berbanding 0,76 milik Qatar, menandakan betapa borosnya lini depan mereka.
Pelatih Qatar, Julen Lopetegui, menerapkan formasi 5-3-2 yang disiplin, mengandalkan serangan balik cepat. Strategi itu nyaris membuahkan hasil pada menit-menit awal ketika kesalahan Manuel Akanji memberi peluang emas bagi Edmilson Junior, namun kiper Gregor Kobel sigap memadamkan ancaman. Swiss yang diperkuat sejumlah pemain Bundesliga seperti Granit Xhaka, Nico Elvedi, dan Kobel, terus menekan, tetapi penyelesaian akhir yang buruk—terutama dari Dan Ndoye dan Rubén Vargas—menjadi biang keladi hilangnya poin penuh.
Kartu kuning menghiasi laga ini: Jassem Gaber (Qatar) dan Denis Zakaria (Swiss) menerima hukuman akibat pelanggaran keras. Swiss nyaris menggandakan keunggulan pada injury time babak pertama, namun tendangan Vargas berhasil dihalau ujung kaki Abunada dan bola liar diamankan barisan pertahanan Qatar. Pada babak kedua, Lopetegui melakukan tiga pergantian sekaligus pada menit ke-60, memasukkan Ahmed Fathy, Karim Boudiaf, dan Ahmed Alaaeldin untuk menyegarkan lini tengah dan depan.
Swiss merespons dengan memasukkan Johan Manzambi dan Fabian Rieder, tetapi peluang terus terbuang. Xhaka melepas tembakan melenceng, Embolo gagal memanfaatkan umpan Manzambi, dan tendangan jarak jauh Manzambi masih bisa ditepis Abunada. Hingga injury time, Swiss masih unggul 1-0 dan seolah mengontrol permainan. Namun, pada menit ke-94, Homam El-Amin melewati bek Swiss di sisi kiri dan mengirim umpan silang akurat ke tiang jauh. Khoukhi yang tak terkawal melompat tinggi dan menyundul bola melewati Kobel, membuat stadion hening.
Bagi Indonesia, hasil ini memberikan gambaran bahwa tim yang dianggap underdog mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola dunia. Pelajaran tentang pentingnya efisiensi di depan gawang dan ketahanan mental hingga akhir laga bisa menjadi inspirasi bagi Timnas Indonesia yang tengah membangun skuad untuk kualifikasi Piala Dunia mendatang. Swiss, yang diunggulkan, harus segera mengevaluasi ketajaman lini depan jika ingin lolos dari grup yang juga dihuni Brasil dan Kamerun.
Dengan hasil imbang ini, Qatar membuka peluang untuk melaju ke babak gugur untuk pertama kalinya, sementara Swiss harus memaksimalkan dua laga sisa. Pertanyaan besarnya: mampukah Qatar mempertahankan semangat juang ini, atau justru Swiss akan bangkit dan menunjukkan kelasnya?



