Partey Batal Bela Ghana di Piala Dunia Usai Banding Visa Ditolak
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Arsenal Thomas Partey dipastikan absen pada laga perdana Ghana melawan Panama setelah banding atas penolakan visa kandas.
- Pemerintah Ghana telah mengupayakan izin masuk khusus ke Kanada, namun pengadilan federal Ottawa menolak permohonan tersebut.
- Keputusan ini menjadi pukulan berat bagi Ghana yang harus kehilangan pemain kunci di tengah persaingan Grup H Piala Dunia.

Gelandang andalan timnas Ghana, Thomas Partey, dipastikan tidak akan tampil pada laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Panama setelah upaya banding atas penolakan visa masuk Kanada ditolak pengadilan federal di Ottawa, Selasa (10/6).
Partey sebelumnya dicegah memasuki Kanada karena adanya proses pidana yang masih berjalan di Inggris. Pemerintah Ghana kemudian mengajukan permohonan khusus agar pemain Arsenal itu bisa masuk secara singkat untuk memperkuat tim pada pertandingan yang dijadwalkan Rabu (11/6) waktu setempat. Namun, sidang banding yang digelar di pengadilan federal Ottawa memutuskan untuk tetap mempertahankan keputusan awal.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan pelatih Carlos Queiroz. Partey merupakan salah satu pemain paling berpengalaman di tim, pernah membela Ghana pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Kehilangan pemain berusia 31 tahun itu di laga krusial melawan Panama bisa mengubah dinamika permainan Ghana di Grup H yang juga dihuni Belgia dan Korea Selatan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa rumitnya regulasi visa dan hukum antarnegara yang bisa memengaruhi karier pemain. Indonesia sendiri pernah mengalami situasi serupa ketika beberapa pemain naturalisasi menghadapi kendala administratif saat bertanding di luar negeri. Kejadian ini juga menyoroti pentingnya perencanaan matang bagi federasi sepak bola dalam mengurus dokumen pemain, terutama yang memiliki catatan hukum.
Menurut analis hukum olahraga dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Malik, kasus Partey menunjukkan bahwa proses pidana di satu negara bisa berdampak langsung pada mobilitas pemain. โIni bukan sekadar masalah visa biasa, tetapi menyangkut kedaulatan hukum negara tujuan. Timnas harus punya rencana cadangan jika pemain kunci mengalami kendala serupa,โ ujarnya.
Ghana kini harus mengandalkan pemain lain di lini tengah seperti Mohammed Kudus atau Salis Abdul Samed untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Partey. Sementara itu, Panama yang diperkuat beberapa pemain berpengalaman dari liga Amerika Latin diprediksi akan mencoba memanfaatkan absennya Partey untuk menekan pertahanan Ghana.
Ke depan, keputusan ini bisa memicu diskusi lebih luas tentang revisi kebijakan visa bagi atlet yang memiliki catatan hukum, terutama di ajang sebesar Piala Dunia. Apakah FIFA akan turun tangan untuk memfasilitasi kelancaran partisipasi pemain, atau justru membiarkan masing-masing negara menerapkan aturan imigrasinya? Pertanyaan ini masih menggantung menjelang pertandingan-pertandingan krusial berikutnya.



