KEEN Ekspansi ke PLTB dan PLTS, Targetkan Kapasitas 10 MWp
Baca dalam 60 detik
- Kencana Energi Lestari (KEEN) menggelar studi kelayakan untuk proyek PLTB dan PLTS berkapasitas 10 MWp ditambah baterai 8,4 MWh.
- Setelah memenangkan tender PLTA Pakkat 2 di Sumatera Utara, KEEN memperluas portofolio EBT dengan mengincar energi surya dan angin.
- Perusahaan mengandalkan natural hedging dan manajemen risiko konstruksi untuk menjaga margin di tengah fluktuasi rupiah.

PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) mempercepat diversifikasi bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menjajaki proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 10 megawatt hour peak (MWp) yang dilengkapi sistem penyimpanan energi 8,4 megawatt-hours (MWh). Langkah ini merupakan kelanjutan dari kemenangan tender proyek PLTA Pakkat 2 di Sumatera Utara, menandai ambisi perseroan untuk menguasai pangsa pasar EBT nasional yang terus tumbuh.
Direktur Keuangan KEEN, Giat Widjaja, mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan tengah melakukan studi kelayakan untuk kedua proyek tersebut. “Kami melihat potensi besar di sektor PLTB dan PLTS, terutama dengan dukungan kebijakan pemerintah yang mendorong bauran energi hijau,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat berkontribusi pada target kapasitas terpasang EBT nasional sebesar 23% pada 2025, meskipun realisasinya masih tertinggal.
Selain ekspansi, KEEN juga fokus pada efisiensi operasional sebagai benteng menghadapi ketidakpastian global dan volatilitas nilai tukar rupiah. Strategi natural hedging—menyeimbangkan pendapatan dan biaya dalam mata uang yang sama—menjadi andalan untuk mengurangi risiko kurs. Manajemen risiko konstruksi juga diperketat guna menghindari pembengkakan biaya proyek di tengah kenaikan harga material dan suku bunga.
Bagi investor dan pelaku industri energi di Indonesia, langkah KEEN mencerminkan tren pergeseran dari ketergantungan pada PLTA menuju portofolio EBT yang lebih beragam. Dengan potensi sumber daya angin dan surya yang melimpah di berbagai wilayah, proyek PLTB dan PLTS menjadi peluang untuk mengurangi risiko konsentrasi dan meningkatkan keandalan pasokan. Namun, tantangan seperti infrastruktur transmisi dan kebijakan tarif yang belum sepenuhnya mendukung masih menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, keberhasilan studi kelayakan akan menjadi penentu apakah KEEN mampu merealisasikan proyek ini tepat waktu. Jika berjalan sesuai rencana, perseroan tidak hanya memperkuat posisinya di sektor EBT, tetapi juga berkontribusi pada transisi energi nasional. Pertanyaannya, akankah target ambisius ini selaras dengan kondisi pasar dan regulasi yang dinamis?



