Damai AS-Iran Buka Peluang Cuan di Bursa Berjangka, Emas Masih Primadona
Baca dalam 60 detik
- Presiden Direktur Doo Financial Futures menilai volatilitas global pasca perjanjian damai AS-Iran justru menguntungkan investor bursa berjangka karena fleksibilitas transaksi jual-beli.
- Komoditas emas mendominasi 80% transaksi bursa berjangka di Indonesia, didukung oleh penguatan regulasi lewat UU P2SK yang melibatkan BI, OJK, dan Bappebti.
- Kesepakatan damai AS-Iran diperkirakan menekan harga minyak namun meningkatkan minat pada emas sebagai aset safe haven, membuka peluang cuan bagi investor ritel.

Perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja tercapai tidak hanya meredakan ketegangan geopolitik, tetapi juga membuka peluang investasi baru di bursa berjangka Indonesia. Presiden Direktur Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai momen ini justru meningkatkan daya tarik perdagangan berjangka karena volatilitas harga yang tinggi dapat dimanfaatkan investor untuk meraih keuntungan.
Menurut Ariston, fleksibilitas produk bursa berjangka menjadi kunci di tengah ketidakpastian global. Investor bisa mengambil posisi beli atau jual terlebih dahulu, sehingga pergerakan harga yang tajam akibat berita damai atau perang dapat dikonversi menjadi cuan. "Volatilitas adalah sahabat trader," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Doo Financial Futures mencatat bahwa emas masih menjadi primadona dengan porsi 80% dari total transaksi. Hal ini tidak terlepas dari status emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang selalu dicari saat ketidakpastian. Dengan meredanya konflik AS-Iran, harga emas sempat terkoreksi, namun Ariston memperkirakan permintaan tetap tinggi karena investor masih waspada terhadap risiko resesi global.
Dari sisi regulasi, implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dinilai menjadi angin segar bagi industri bursa berjangka. UU ini menyatukan pengawasan di bawah BI, OJK, dan Bappebti, sehingga tata kelola lebih ketat dan kepercayaan investor meningkat. "Regulasi yang jelas membuat investor ritel lebih nyaman bermain di bursa berjangka," tambah Ariston.
Bagi investor Indonesia, kesepakatan damai AS-Iran membawa implikasi ganda. Di satu sisi, harga minyak global berpotensi turun karena pasokan dari Iran kembali ke pasar, menguntungkan sektor transportasi dan manufaktur. Di sisi lain, emas tetap menjadi pilihan utama karena ketidakpastian ekonomi global belum sepenuhnya hilang. Ariston menyarankan investor untuk tetap waspada dan memanfaatkan volatilitas dengan strategi hedging.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah perdamaian ini akan bertahan lama. Jika stabilitas kawasan Timur Tengah benar-benar terwujud, bursa berjangka mungkin akan melihat pergeseran dari emas ke komoditas lain seperti minyak sawit atau logam industri. Namun, hingga saat ini, emas masih menjadi raja di lantai bursa.



