Kredit Kendaraan Melambat, Industri Asuransi Bermotor Cari Peluang Baru
Baca dalam 60 detik
- Penyaluran kredit multifinance turun 1,44% pada Mei 2026, menekan premi asuransi kendaraan bermotor.
- Oona Insurance Indonesia mendorong digitalisasi dan perluasan saluran distribusi untuk menjaga pertumbuhan.
- Segmen kendaraan listrik dinilai menjadi sumber pertumbuhan baru bagi asuransi umum di tengah perlambatan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penurunan penyaluran kredit multifinance sebesar 1,44% secara tahunan menjadi Rp 402,49 triliun pada Mei 2026. Perlambatan ini langsung berdampak pada industri asuransi kendaraan bermotor, yang selama ini mengandalkan pembiayaan sebagai motor utama pertumbuhan premi.
Tekanan pada sektor multifinance memicu kekhawatiran akan menurunnya permintaan polis asuransi kendaraan baru. Sebab, sebagian besar kendaraan yang dibeli melalui pembiayaan diwajibkan memiliki asuransi. Jika kredit melambat, otomatis jumlah kendaraan baru yang diasuransikan juga berkurang.
Menanggapi situasi ini, President Director & CEO Oona Insurance Indonesia, Vincent C. Soegianto, menekankan perlunya transformasi strategi. Menurutnya, industri asuransi tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada pembiayaan multifinance. "Kami harus memperkuat sumber pertumbuhan lain, seperti memperluas asuransi untuk kendaraan yang sudah beredar dan memanfaatkan saluran digital serta media sosial," ujarnya dalam diskusi di CNBC Indonesia.
Di sisi lain, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai dilirik sebagai ceruk baru. Meskipun pangsa pasarnya masih kecil, pertumbuhan EV di Indonesia terus meningkat seiring dukungan pemerintah melalui insentif dan pembangunan infrastruktur pengisian daya. Vincent menilai segmen ini menawarkan potensi premi yang lebih tinggi karena nilai kendaraan yang lebih mahal dan risiko teknologi yang berbeda.
Bagi konsumen Indonesia, perlambatan kredit multifinance bisa berarti premi asuransi kendaraan yang lebih kompetitif. Perusahaan asuransi kemungkinan akan menawarkan diskon atau paket bundling untuk mempertahankan nasabah. Namun, di sisi lain, pemilik kendaraan bekas mungkin akan lebih sulit mendapatkan perlindungan yang memadai jika perusahaan fokus pada segmen baru.
Ke depan, industri asuransi kendaraan bermotor dihadapkan pada pilihan: bertahan dengan model bisnis lama atau beradaptasi dengan tren digital dan elektrifikasi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah perusahaan asuransi mampu menyeimbangkan antara mempertahankan pangsa pasar konvensional dan merambah segmen baru yang belum matang?



