Gempa 7,1 Guncang Kumamoto, Diduga Sisa Sesar yang Tak Terputus Sejak 2016
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan M7,1 melanda Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa sore, diduga dipicu oleh segmen sesar yang tak bergerak pada gempa ganda 2016.
- Aktivitas seismik di sekitar zona sesar Hinagu meningkat dua kali lipat sejak gempa 2016, menunjukkan akumulasi tekanan yang kini terlepas.
- Para ahli memperingatkan potensi gempa susulan kuat, sementara Badan Meteorologi Jepang belum menghubungkan secara resmi gempa ini dengan gempa 2016.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang wilayah barat daya Jepang pada Selasa sore diduga kuat berasal dari sesar aktif yang tak sepenuhnya patah pada gempa kembar sedekade lalu. Guncangan kali ini, berpusat di Prefektur Kumamoto, hanya berjarak puluhan kilometer dari episentrum gempa dahsyat 2016 yang menewaskan lebih dari 270 orang.
Episentrum gempa terbaru berada di daratan Kumamoto dengan kedalaman 16 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat gempa ini termasuk jenis sesar mendatar (strike-slip), di mana dua blok batuan bergerak horizontal saling berlawanan arah โ mekanisme yang identik dengan gempa 2016. Skala intensitas seismik mencapai level 7โlevel tertinggiโdi beberapa wilayah prefektur, sama seperti gempa terdahulu.
Profesor Seismologi Universitas Tohoku, Shinji Toda, dalam analisisnya menemukan bahwa frekuensi gempa kecil berkekuatan M1,5 atau lebih di sekitar Zona Sesar Hinagu meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2016. Menurut Toda, gempa besar 2016 telah meninggalkan tekanan dan regangan signifikan pada bagian selatan sesar Hinagu yang membentang hingga Laut Yatsushiro. Segmen inilah yang selama ini dianggap hampir tidak bergerak dalam peristiwa sepuluh tahun lalu. โTekanan itu akhirnya terleaskan dalam bentuk gempa kali ini,โ ujar Toda seraya menambahkan bahwa mekanisme kedua gempa serupa.
Zona sesar aktif di Kyushu tengah, termasuk Sesar Hinagu dan Futagawa, memang menjadi perhatian para ahli karena potensinya memicu gempa daratan besar. Sejak 2016, para seismolog terus memperingatkan bahwa segmen selatan Hinagu merupakan celah yang belum terisi energi. Gempa Selasa lalu mengonfirmasi kekhawatiran itu.
โGempa 2016 menyebabkan akumulasi tegangan yang signifikan, dan pergerakan kali ini merupakan bagian dari proses pelepasan yang sama,โ kata Profesor Toda dalam pernyataan yang dikutip Kyodo News.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan potensi gempa besar dari segmen sesar yang belum patah sepenuhnya. Sesar aktif seperti Sesar Semangko di Sumatra, Sesar Cimandiri di Jawa Barat, dan sesar-sesar di Sulawesi memiliki karakteristik serupa. Gempa Lombok 2018 dan gempa Palu 2018 menunjukkan bahwa segmen sesar yang semula dianggap diam dapat tiba-tiba bergerak setelah puluhan tahun akumulasi tekanan. Para ahli kegempaan Indonesia pun terus mendorong pemetaan ulang segmen sesar yang belum teridentifikasi sebagai ancaman tersembunyi.
Badan Meteorologi Jepang belum secara resmi menyatakan bahwa gempa Selasa merupakan rangkaian dari gempa 2016. Namun, data sebaran gempa susulan dan lokasi episentrum menunjukkan kaitan spasial yang erat. Pertanyaannya, akankah gempa ini menjadi pendahulu untuk gempa yang lebih besar di zona yang sama? Atau justru merupakan pelepasan energi terakhir dari siklus seismik yang dimulai sepuluh tahun lalu? Yang jelas, kewaspadaan tetap menjadi kata kunci bagi wilayah yang hidup di atas cincin api Pasifik.



