Volkswagen Pangkas Proyeksi Pasar Mobil China, Sinyal Perlambatan Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Volkswagen memperkirakan pasar mobil baru China akan turun di bawah 21 juta unit tahun ini, tanpa prospek pemulihan signifikan.
- Penjualan mobil China anjlok 19,5% dalam lima bulan pertama 2026, dipicu perubahan subsidi, kenaikan BBM, dan perang harga.
- Produsen Jerman itu tetap optimistis pada kendaraan listrik, namun tekanan pasar diperkirakan berimbas ke rantai pasok global, termasuk Indonesia.

Volkswagen memproyeksikan pelemahan pasar otomotif China akan berlangsung hingga akhir tahun, tanpa tanda-tanda pemulihan yang mampu menutup kerugian yang sudah terjadi. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh raksasa otomotif Jerman tersebut di Beijing, sebagaimana dilaporkan German Press Agency (dpa).
Produsen mobil terbesar di Eropa itu memperkirakan total pasar kendaraan baru di China akan menyusut menjadi kurang dari 21 juta unit pada 2026. Angka ini lebih rendah dari realisasi tahun lalu yang sudah tertekan. Volkswagen mengaku telah menyesuaikan rencana bisnisnya, meski tidak merinci langkah konkret yang akan diambil.
Proyeksi pesimistis ini muncul setelah Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) mencatat penurunan penjualan kendaraan sebesar 19,5 persen pada JanuariโMei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan drastis itu menjadi indikator bahwa konsumen China semakin menahan belanja, terutama untuk barang tahan lama seperti mobil.
Volkswagen menyebut sejumlah faktor yang menggerus kepercayaan konsumen dan permintaan, antara lain perubahan kebijakan subsidi dan pajak, lonjakan harga bahan bakar minyak, serta persaingan harga yang kian sengit antar merek. Perang diskon yang dipicu oleh produsen mobil listrik domestik seperti BYD dan Nio membuat margin keuntungan semakin tipis bagi pemain global.
Meski pasar konvensional melemah, Volkswagen mengklaim penjualan kendaraan listrik baterai (BEV) mereka terus tumbuh stabil. Perusahaan mengandalkan strategi penyesuaian dan serangan produk yang berfokus pada model listrik dan plug-in hybrid untuk menghadapi tekanan pasar. Namun, analis menilai pertumbuhan BEV Volkswagen masih kalah cepat dibandingkan pesaing lokal China.
Bagi Indonesia, pelemahan pasar otomotif China memiliki implikasi langsung. China adalah pemasok utama komponen kendaraan, termasuk baterai dan suku cadang, untuk perakitan di dalam negeri. Jika produksi di China terus menurun, pasokan ke pabrikan Indonesia seperti Hyundai, Wuling, dan DFSK bisa terganggu. Selain itu, persaingan harga di China kerap memicu dumping produk ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang bisa mengancam industri lokal.
Volkswagen dijadwalkan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan pada Kamis mendatang. Investor akan mencermati apakah perusahaan akan merevisi target laba atau mengumumkan langkah restrukturisasi lebih dalam. Pertanyaan besarnya: sejauh mana perlambatan China akan memaksa produsen global untuk mengalihkan fokus ke pasar lain, termasuk Indonesia?



