Camila Mendes Kritik Stigma Angkat Beban bagi Wanita: 'Otot Kuat Itu Indah'
Baca dalam 60 detik
- Camila Mendes menegaskan bahwa tubuh wanita berotot layak mendapat apresiasi lebih, sekaligus mengecam keengganan kaum hawa terhadap latihan beban karena takut terlihat maskulin.
- Untuk memerankan Teela di Masters of the Universe, ia menjalani program latihan super ketat, termasuk teknik 'pumping up' dengan dehidrasi dan konsumsi gula agar otot tampak lebih besar di layar.
- Kini aktris 32 tahun itu mengubah total pola latihan dan diet demi peran baru sebagai pecandu heroin, menunjukkan tuntutan fisik ekstrem di industri hiburan.

Camila Mendes, aktris yang dikenal lewat serial Riverdale dan baru saja membintangi film Masters of the Universe, kembali menyuarakan pandangannya tentang standar kecantikan wanita. Ia dengan tegas menyatakan bahwa tubuh wanita yang kuat dan berotot justru lebih indah daripada yang selama ini dipromosikan arus utama.
Dalam wawancara dengan Hero Magazine, Mendes mengaku merasa perubahan mulai terjadi, namun masih ada stigma di kalangan wanita yang enggan mengangkat beban karena takut terlihat maskulin. “Sejujurnya, menurut saya tidak ada yang lebih indah daripada melihat wanita yang kencang dan memiliki otot kuat. Citra itu sangat cantik, dan saya berharap tipe tubuh seperti ini lebih dirayakan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah ia melalui transformasi fisik intens untuk memerankan Teela, karakter superhero di Masters of the Universe. Mendes menjalani latihan beban terstruktur dan bahkan melakukan teknik khusus di sela-sela syuting. “Sebelum setiap pengambilan gambar, kami selalu melakukan ‘pumping up’ – ada satu set dumbel di tenda saya. Saya terus melakukan bicep curl sampai dipanggil kembali. Kami juga mengonsumsi camilan manis agar aliran darah meningkat dan otot tampak lebih bengkak. Tidak minum air juga membuat otot lebih menonjol,” jelasnya.
Pelatih David Kingsbury disebutnya sangat membantu menjaga kebugaran dan memastikan penampilan optimal. Namun, perubahan drastis kini harus dilakukan Mendes. Peran berikutnya mengharuskannya memerankan seorang pecandu heroin, sehingga ia harus mengurangi massa otot dan tampak lebih kurus. “Saya tidak bisa terlihat seperti orang yang rajin angkat beban dan super sehat. Saya harus mulai tampak lebih kurus, jadi saya sudah tidak banyak angkat beban lagi,” tuturnya.
Fenomena ini menarik jika dikaitkan dengan konteks Indonesia. Di tanah air, standar kecantikan masih sering mengidealkan tubuh langsing dan ‘feminin’. Namun, tren kebugaran—termasuk angkat beban untuk wanita—semakin populer, terutama di kalangan anak muda perkotaan. Banyak influencer fitness wanita Indonesia mulai menunjukkan bahwa otot bukan sesuatu yang memalukan, melainkan simbol kesehatan dan kekuatan. Pandangan Camila Mendes bisa menjadi angin segar yang memperkuat perubahan persepsi tersebut.
Ke depan, pertanyaan yang muncul: apakah industri hiburan dan media massa akan lebih sering menampilkan tubuh wanita berotot sebagai sesuatu yang indah? Ataukah peran seperti yang dimainkan Mendes justru masih menjadi pengecualian? Yang jelas, pernyataan aktris ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang keberagaman bentuk tubuh dan pembebasan dari stereotip kecantikan sempit.



