Harga Minyak Anjlok Picu Reli Saham Asia, Pasar Bersiap Hadapi Pekan Padat The Fed
Baca dalam 60 detik
- Penurunan harga minyak mentah lebih dari 5% menyusul meredanya ketegangan di Teluk Persia mendorong indeks saham Asia dan obligasi menguat pada awal pekan.
- Pasar kini mengalihkan fokus ke rapat bank sentral utama, termasuk The Fed yang diperkirakan menahan suku bunga meski sebagian kecil pelaku pasar masih melihat kemungkinan kenaikan.
- Meredanya tekanan inflasi dari sektor energi menjadi angin segar bagi perekonomian global, termasuk Indonesia yang mengimpor minyak dan rentan terhadap gejolak harga komoditas.

Pasar saham Asia menikmati reli pada Senin (27/7) setelah harga minyak mentah ambles lebih dari 5% akibat jeda sementara konflik bersenjata di kawasan Teluk, memberikan ruang lega bagi obligasi dan meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan menggelar pertemuan pekan ini.
Minyak mentah Brent ditutup pada level US$91,73 per barel, turun 5,2%, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,4% ke US$84,45 per barel setelah Iran menyatakan akan menghentikan serangan selama Amerika Serikat melakukan hal serupa. Meski demikian, kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran tetap melancarkan serangan terhadap instalasi minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah, mengancam jalur perdagangan minyak global lainnya.
Pelonggaran harga energi ini memberikan kelegaan bagi pasar obligasi, dengan imbal hasil Treasury AS 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 4,63%, mendorong kenaikan harga obligasi dan menekan dolar AS. Mata uang euro dan yen menguat tipis terhadap dolar. Data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk PDB kuartal II, indeks harga PCE, dan data pasar tenaga kerja, akan menjadi penentu arah kebijakan lebih lanjut.
“Perkembangan di Timur Tengah menunjukkan pergerakan positif yang menambah keyakinan bahwa harga minyak di atas US$100 justru mendorong perilaku deeskalasi dari kedua belah pihak,” ujar Sally Auld, ekonom utama NAB, dalam catatannya.
Pekan ini menjadi salah satu yang terpadat bagi kebijakan moneter global. The Federal Reserve menggelar rapat pada Rabu, diikuti Bank of England pada Kamis dan Bank of Japan pada Jumat. Pasar memperkirakan hanya sepertiga kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga, namun analis Goldman Sachs menilai hasil rapat kali ini “sangat tidak pasti” karena perpecahan di antara anggota The Fed dan posisi Ketua Kevin Warsh yang belum jelas. “Kemungkinan akan ada setidaknya satu suara tidak setuju yang mendukung kenaikan, tetapi mayoritas tampaknya enggan mendorong langkah tersebut setelah data inflasi Juni yang lebih lunak,” tulis analis Goldman Sachs.
Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal II memasuki puncaknya dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Microsoft, Meta, Amazon, Apple, dan Qualcomm dijadwalkan merilis hasil. LSEG IBES memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 mencapai 26,5% secara tahunan, namun kekhawatiran atas belanja AI yang membengkak—termasuk laporan bahwa Nvidia dalam pembicaraan untuk menyediakan dana backstop sebesar US$250 miliar untuk OpenAI—membayangi sentimen investor.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak mentah menjadi kabar baik karena Indonesia masih menjadi importir minyak bersih. Harga minyak yang lebih rendah berarti subsidi energi bisa berkurang dan tekanan pada defisit perdagangan sedikit mereda. Di samping itu, penguatan bursa Asia berpotensi menular ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pekan lalu bergerak mixed. Investor domestik perlu mencermati hasil rapat The Fed yang dapat mempengaruhi aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penurunan minyak ini bersifat sementara karena konflik di Timur Tengah masih belum benar-benar reda. Jika harga minyak kembali merangkak naik, tekanan inflasi bisa kembali mengemuka dan mempersulit langkah bank sentral. Pekan ini akan menjadi ujian bagi pasar untuk menentukan apakah reli saat ini hanya sekadar ‘relief rally’ atau awal dari tren positif yang lebih berkelanjutan.


