Singapura Airlines Catat Kerugian Kuartalan Pertama Sejak 2022, Terbebani Biaya Bahan Bakar dan Air India
Baca dalam 60 detik
- Singapore Airlines membukukan rugi bersih S$76 juta pada kuartal I-2026, pertama sejak pandemi, meskipun pendapatan rekor.
- Lonjakan biaya bahan bakar akibat konflik Timur Tengah dan kerugian dari Air India menjadi pemicu utama kerugian tersebut.
- Kinerja SIA menjadi peringatan bagi industri penerbangan global, termasuk potensi dampak pada harga tiket dan biaya operasional maskapai di Indonesia.

Singapore Airlines (SIA) mencatatkan kerugian bersih sebesar S$76 juta pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, membalikkan laba tahun sebelumnya akibat tekanan biaya bahan bakar yang melonjak dan kontribusi negatif dari anak usahanya, Air India. Ini merupakan kerugian kuartalan pertama yang dialami maskapai pelat merah Singapura tersebut sejak masa pandemi Covid-19 pada kuartal IV-2021/2022.
Padahal, di tengah derasnya permintaan perjalanan udara dan kargo, SIA berhasil membukukan pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, mencapai S$5,71 miliarโnaik 19,3% secara tahunan. Jumlah penumpang yang diangkut SIA bersama unit hematnya, Scoot, juga memecahkan rekor dengan 10,9 juta orang, sementara pendapatan kargo meroket 33,5% menjadi S$708 juta.
Namun, kenaikan pendapatan itu tergerus oleh lonjakan biaya bersih bahan bakar yang membengkak 78,5% menjadi S$2,25 miliar. Penyebabnya adalah eskalasi konflik Timur Tengah yang mulai berdampak pada harga minyak dunia sejak akhir Februari lalu. Akibatnya, laba usaha SIA ambles 73,8% menjadi hanya S$106 juta. Realisasi kerugian bersih bahkan lebih dalam dari estimasi analis yang dikumpulkan LSEG yang memperkirakan rugi hanya S$4,3 juta.
Selain biaya bahan bakar, kerugian SIA juga diperparah oleh beban dari Air India, di mana SIA memegang 25,1% saham. Pada kuartal ini, bagian rugi dari Air India mencapai S$42 juta. Pemilik mayoritas Air India, Tata Sons, Senin lalu mengakui bahwa proses pemulihan kinerja maskapai tersebut bisa memakan waktu hingga satu dekade.
Kondisi yang dialami SIA mencerminkan tekanan yang melanda industri penerbangan global. Maskapai-maskapai dari Amerika Serikat hingga Asia melaporkan bahwa kenaikan imbal hasil penumpang dan rekor permintaan perjalanan belum mampu mengimbangi melonjaknya biaya bahan bakar akibat konflik geopolitik. SIA sendiri memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan berpotensi mengganggu rantai pasok, perdagangan global, dan kondisi makroekonomi.
Bagi Indonesia, situasi ini perlu dicermati. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air juga sangat bergantung pada avtur impor. Lonjakan harga bahan bakar dapat menekan margin laba mereka dan berpotensi mendorong kenaikan harga tiket domestik. Di sisi lain, rute penerbangan ke Timur Tengah yang menjadi salah satu andalan maskapai Indonesia juga bisa terpengaruh jika konflik berlarut-larut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SIA mampu beradaptasi seperti saat pandemi duluโketika maskapai ini berhasil memangkas biaya dan memanfaatkan pemulihan permintaan. Namun kali ini tantangannya berbeda: ketidakpastian geopolitik yang sulit diprediksi. Akankah industri penerbangan Asia Tenggara kembali terpuruk, atau justru menemukan celah efisiensi baru?



