Peter Obi Dorong Suku Bunga Rendah dan Keamanan untuk Bangkitkan Ekonomi Nigeria
Baca dalam 60 detik
- Mantan Gubernur Anambra, Peter Obi, menyerukan penurunan suku bunga dan penanganan keamanan sebagai syarat utama pemulihan ekonomi Nigeria.
- Obi menilai sektor pertanian lebih potensial daripada minyak, namun terhambat konflik yang menghalangi petani menggarap lahan.
- Ia juga mendorong revitalisasi sistem magang dan pemberantasan korupsi untuk menciptakan ekosistem wirausaha yang sehat.

Mantan Gubernur Negara Bagian Anambra dan calon presiden dari Kongres Demokratik Nigeria (NDC), Peter Obi, menegaskan bahwa Nigeria membutuhkan kombinasi kebijakan suku bunga rendah, jaminan keamanan, dan pemberantasan korupsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi tahunan This Generation Project 2026 di Abuja, yang mengusung tema "Thriving in the Marketplace".
Menurut Obi, potensi pertanian Nigeria yang sangat besar belum dimanfaatkan secara optimal karena ketidakamanan yang meluas. Banyak petani tidak bisa mengakses lahan mereka akibat konflik bersenjata dan aksi kriminal. "Kita tidak bisa terus berada dalam situasi di mana anak-anak tidak bisa bersekolah dan petani tidak bisa menggarap ladang," ujarnya di hadapan peserta konferensi yang sebagian besar adalah pelaku bisnis dan profesional muda.
Obi membandingkan sektor pertanian dengan industri minyak yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Nigeria. Ia mencontohkan negara-negara yang berhasil membangun ekonomi kuat melalui ekspor produk pertanian. "Kami bisa menghasilkan lebih banyak uang dari pertanian daripada dari minyak. Tantangan kami adalah keamanan, dan kami harus menghadapinya secara tegas," tegasnya.
Selain keamanan, Obi menyoroti tingginya suku bunga kredit yang memberatkan usaha kecil dan menengah (UKM). Ia menilai lingkungan peminjaman saat ini tidak kondusif bagi ekspansi bisnis. "Tidak ada yang salah dengan meminjam, tetapi dana pinjaman harus diinvestasikan secara produktif. Tidak ada ekonomi yang bisa berkembang dengan suku bunga tinggi. Bank harus mendukung bisnis dan membantu mereka tumbuh," katanya. Obi juga menyinggung praktik korupsi yang merusak iklim investasi dan menghambat inovasi.
Obi juga mengkritik pergeseran minat generasi muda dari kewirausahaan ke politik. Menurutnya, tidak ada masyarakat yang bisa makmur jika politisi lebih sukses dan berpengaruh daripada pengusaha. "Wirausaha menciptakan kekayaan dan lapangan kerja, tetapi saat ini orang menghasilkan uang tanpa memproduksi apa pun," keluhnya. Ia menekankan pentingnya sistem magang yang pernah sukses di masa lalu, di mana pengusaha mapan membimbing generasi muda. "Model magang berhasil karena orang sukses membantu orang lain menjadi sukses," imbuhnya.
Pendeta Senior Gereja Summit Bible sekaligus penyelenggara konferensi, Andy Osakwe, menambahkan bahwa panggilan untuk berkembang di pasar bukanlah kemewahan melainkan mandat. "Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam pengaruh dan dampak ilahi. Kita harus lebih proaktif dan intensional dalam hal ini," ujarnya. Acara tersebut juga menghadirkan pembicara lain seperti Sam Odia (CEO Millard Fuller Foundation) dan Tricia Olufemi-Olumide (CEO TriciaBiz).
Pernyataan Obi muncul di tengah tekanan ekonomi yang melanda Nigeria, di mana inflasi mencapai dua digit dan nilai naira terus terdepresiasi. Pertanyaan yang mengemuka: apakah pemerintah saat ini akan merespons seruan ini dengan kebijakan konkret, atau justru semakin memperkuat sektor ekstraktif yang selama ini mendominasi?



