Kesepakatan AS-Iran Segera Dipublikasikan, Trump Jamin Iran Tak Miliki Nuklir
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump mengumumkan teks kesepakatan sementara AS-Iran akan dirilis dalam beberapa hari, dengan klausul larangan pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.
- Kesepakatan ini memperpanjang gencatan senjata 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, namun pemulihan penuh ekspor energi diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
- Meski meredakan konflik, perjanjian tersebut meninggalkan isu-isu krusial seperti program rudal Iran dan dukungan terhadap milisi proksi, serta memicu kritik dari internal partai Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan bahwa teks kesepakatan sementara dengan Iran akan dipublikasikan dalam waktu dekat, dengan jaminan bahwa Teheran tidak akan memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan Trump di sela-sela pertemuan G7 di Evian-les-Bains, Prancis, pada Selasa (16/6), meredakan sebagian keraguan yang menyelimuti perjanjian yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah.
Kesepakatan interim ini memperpanjang gencatan senjata yang rapuh sejak April selama 60 hari lagi dan membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital yang membawa seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Iran sebelumnya memblokade selat tersebut setelah serangan gabungan AS dan Israel pada Februari lalu. Trump menambahkan bahwa dirinya mendukung pengiriman perjanjian ini ke Kongres untuk ditinjau, sebuah permintaan dari sejumlah anggota Partai Republik.
Namun, pemulihan penuh arus energi dan pelayaran diperkirakan tidak instan. Seorang pejabat perusahaan keamanan maritim Yunani, Diaplous, memperingatkan bahwa operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa putaran negosiasi berikutnya akan dimulai di Swiss pada Jumat setelah penandatanganan kerangka kerja, dengan fokus pada masa depan program nuklir Iran. Dua isu utama yang digunakan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membenarkan perang—penghentian dukungan Iran terhadap milisi proksi dan pembatasan program rudal—tidak masuk dalam agenda negosiasi tahap ini.
Dari sisi politik, kesepakatan ini membuka celah kritik bagi Trump dari kubu konservatif di partainya sendiri. Sementara itu, pemimpin Iran menghadapi risiko gelombang protes baru jika gagal meredakan tekanan ekonomi pascaperang. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut nota kesepahaman yang ditandatangani sebagai "dokumen yang sangat umum", dan rincian akan dirilis dalam dua hari ke depan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut kesepakatan itu sebagai "langkah penting" namun mengingatkan bahwa perjanjian damai permanen "belum terbentuk".
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati mengingat ketergantungan pada stabilitas pasokan energi global. Selat Hormuz yang kembali terbuka dapat menekan harga minyak dunia, yang berpotensi meringankan beban subsidi energi dalam negeri. Namun, jika pemulihan ekspor minyak Iran dan negara Teluk tertunda, risiko volatilitas harga masih mengintai. Selain itu, keterlibatan AS yang semakin dalam di Timur Tengah pasca-kesepakatan dapat mempengaruhi keseimbangan geopolitik kawasan, termasuk hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara Teluk dan Iran.
Trump juga melontarkan kritik terhadap strategi Israel di Lebanon, menyarankan agar Suriah—yang tengah berjuang stabilisasi pasca-perang saudara—lebih cocok untuk melucuti Hizbullah. "Saya menyarankan Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah, karena sejujurnya saya pikir mereka lebih baik dalam melakukannya," ujar Trump. Ia mengaku "tidak senang" dengan cara Israel menangani kampanye militernya. Israel sendiri tidak terlibat langsung dalam perundingan damai dengan Iran. Pertanyaan besarnya kini: mampukah kerangka kerja sementara ini bertahan menghadapi kompleksitas konflik yang masih membara, terutama di Lebanon dan Yaman, serta tekanan dari faksi-faksi garis keras di kedua kubu?



