Mahasiswa Gotong Karangan Bunga Satire ke DPR: Kritik Diamnya Wakil Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Puluhan mahasiswa BEM SI Kerakyatan menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR dengan membawa karangan bunga bertuliskan kritik terhadap pemerintah dan DPR.
- Karangan bunga itu menjadi simbol protes atas kebijakan ekonomi yang membebani rakyat dan fungsi pengawasan DPR yang dinilai mandul.
- Aksi ini mempertegas ketidakpuasan publik terhadap lembaga legislatif yang dinilai abai terhadap aspirasi masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259914/original/055124900_1781519371-WhatsApp_Image_2026-06-15_at_17.22.10.jpeg)
Empat mahasiswa menggotong dua karangan bunga berukuran besar dan memasangnya di gerbang utama Gedung DPR/MPR RI, Senin sore. Bukan bunga ucapan selamat, melainkan satire yang bertuliskan 'kegagalan pemerintah dan DPR' โ sebuah simbol yang langsung menyedot perhatian peserta aksi dan pengguna jalan di kawasan Senayan.
Aksi yang digelar BEM SI Kerakyatan Wilayah Jakarta itu merupakan bagian dari gelombang protes mahasiswa yang masih berlangsung hingga petang. Massa tiba sekitar pukul 15.43 WIB setelah melakukan long march dari Gerbang Pemuda. Mereka membawa spanduk, poster, serta kertas berisi tuntutan, namun kehadiran karangan bunga menjadi momen yang paling menonjol.
Koordinator Daerah BEM SI Kerakyatan Jakarta, Farizal, menyatakan aksi ini bertujuan menyampaikan keresahan masyarakat yang kian tertekan oleh kebijakan ekonomi. "Kami di sini menyampaikan aspirasi masyarakat," ujarnya di lokasi. Ia menambahkan, mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan seperti daya beli yang menurun dan biaya hidup yang terus melambung.
Namun yang paling mengemuka adalah kritik tajam terhadap DPR. Farizal menilai lembaga legislatif itu tidak menjalankan fungsi pengawasan secara optimal. "Kami merasa DPR satu bulan ini tidak bekerja. DPR tidak menunjukkan sikap pro terhadap rakyat. Ketika ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, DPR diam," tegasnya. Ia bahkan menyebut sikap diam itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap masyarakat.
Pemandangan karangan bunga di depan gedung parlemen bukan sekadar atraksi visual. Ini adalah bahasa protes yang lazim digunakan mahasiswa Indonesia untuk menyindir institusi yang dianggap gagal. Dalam konteks politik saat ini, aksi tersebut merefleksikan kekecewaan yang meluas terhadap DPR yang dinilai terlalu akomodatif terhadap pemerintah. Di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, publik mengharapkan DPR menjadi penyeimbang, bukan sekadar stempel kebijakan.
Hingga sore hari, aksi masih berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian. Belum ada laporan mengenai bentrokan atau tindakan represif. Namun, pesan yang dibawa mahasiswa melalui karangan bunga itu telah menggema: bahwa diamnya wakil rakyat di saat krisis adalah pengkhianatan terhadap amanat konstitusi. Pertanyaannya, akankah DPR menangkap sinyal ini dan mengubah sikap, atau justru terus bergeming?



