Akun X CEO Robinhood Dibajak, Hacker Sebarkan Konten Palsu Memecoin
Baca dalam 60 detik
- Peretas mengaku sebagai layanan pelanggan X untuk mengambil alih akun CEO Robinhood, Vlad Tenev, dan menyebarkan informasi palsu soal memecoin.
- Insiden ini mencerminkan lonjakan serangan siber berbasis AI di AS yang menargetkan figur publik dan perusahaan.
- Pengguna media sosial di Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap modus social engineering yang mengabaikan autentikasi dua faktor.

Akun X milik CEO Robinhood, Vlad Tenev, diretas oleh seseorang yang kemudian menyebarkan unggahan palsu terkait sebuah memecoin. Peristiwa yang terjadi pekan lalu itu kembali menyoroti kerentanan platform media sosial terhadap serangan rekayasa sosial yang semakin canggih.
Menurut keterangan Tenev di akun X-nya, pelaku berhasil mengakses akun tersebut dengan menipu tim dukungan pelanggan X melalui teknik social engineering. Metode ini memungkinkan peretas melewati fitur keamanan standar seperti autentikasi dua faktor (2FA) dan pemberitahuan masuk. โPenipu itu merekayasa layanan pelanggan X untuk mendapatkan akses, melewati fitur keamanan standar seperti 2FA dan notifikasi login,โ tulis Tenev.
Akun yang sempat digunakan untuk mengunggah konten menyesatkan tentang memecoin itu telah dipulihkan sepenuhnya dan unggahan palsu telah dihapus pada hari yang sama. Tenev menambahkan bahwa tim keamanan X telah menerapkan perlindungan tambahan pada akunnya guna mencegah terulangnya insiden serupa.
Kasus ini terjadi di tengah meningkatnya gelombang insiden keamanan siber di Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan berbasis kecerdasan buatan (AI) makin sering digunakan untuk mencuri data sensitif dan mengganggu operasional perusahaan. Modus social engineering yang menargetkan layanan pelanggan menjadi salah satu celah yang kerap dieksploitasi, mengingat banyak platform masih mengandalkan verifikasi manual.
Di Indonesia, fenomena serupa juga perlu diwaspadai. Meski platform X belum sepopuler di negara lain, pengguna media sosial lokal rentan terhadap taktik rekayasa sosial, terutama yang mengatasnamakan layanan pelanggan. โKasus Tenev mengingatkan kita bahwa autentikasi dua faktor saja tidak cukup jika proses verifikasi pelanggan bisa dimanipulasi,โ ujar Alfian Pratama, analis keamanan siber dari firma konsultan Vaksin.com. Ia menekankan pentingnya edukasi publik agar tidak mudah memberikan data pribadi kepada pihak yang mengaku dari layanan pelanggan.
Insiden ini juga menyoroti risiko yang dihadapi figur publik dan perusahaan kripto. Robinhood, yang menyediakan layanan perdagangan saham dan kripto, menjadi sasaran empuk karena keterkaitannya dengan aset digital. Memecoin, yang seringkali bersifat spekulatif, rentan dimanipulasi melalui unggahan tokoh terkenal. Meski unggahan palsu segera dihapus, dampak jangka pendek terhadap harga aset bisa terjadi jika informasi tidak segera diklarifikasi.
Ke depan, platform media sosial perlu memperkuat prosedur verifikasi pelanggan, misalnya dengan mewajibkan konfirmasi multifaktor melalui saluran independen sebelum mengabulkan permintaan pemulihan akun. Bagi pengguna individu, penggunaan kata sandi unik dan autentikasi berbasis aplikasi (authenticator app) disarankan untuk mengurangi risiko.
Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah insiden seperti ini mendorong platform seperti X untuk merevisi kebijakan keamanan pelanggan mereka, atau justru memicu gelombang serangan baru yang lebih terarah?



