Fabregas Dukung Kembalinya Mancini ke Timnas Italia: 'Dia Pembuktian Diri'
Baca dalam 60 detik
- Cesc Fabregas menyambut positif penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih Timnas Italia, menilai rekam jejaknya sebagai pemenang di klub dan negara.
- Keputusan FIGC ini menuai pro-kontra, namun Fabregas yakin Mancini mampu membawa Italia kembali berjaya setelah kegagalan lolos Piala Dunia 2022.
- Claudio Ranieri juga ditunjuk sebagai direktur teknis, menandai strategi federasi menggabungkan pengalaman senior untuk membangun kembali sepak bola Italia.

Cesc Fabregas memberikan dukungan penuh atas kembalinya Roberto Mancini ke kursi pelatih Timnas Italia. Pelatih Como itu menilai Mancini sebagai sosok pemenang yang telah membuktikan kualitasnya bersama Manchester City dan ketika membawa Italia meraih gelar juara Eropa pada 2021.
Keputusan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menunjuk Mancini kembali diumumkan hari ini, tiga tahun setelah ia meninggalkan pos tersebut untuk menangani tim nasional Arab Saudi. Sebelumnya, federasi sempat mendekati Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, dan Andrea Pirlo, namun ketiganya menolak tawaran tersebut. Langkah ini dianggap sebagian kalangan sebagai kemunduran bagi upaya modernisasi sepak bola Italia, mengingat kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022 menjadi noda dalam karier Mancini.
Fabregas, yang pernah bermain di Premier League bersama Arsenal dan Chelsea, membela keputusan itu. “Saya selalu menyukai Mancini sejak masih di Manchester City. Dia adalah pemenang, pekerja keras, dan memainkan sepak bola yang indah,” ujar Fabregas dalam konferensi pers. Mantan gelandang Spanyol itu menekankan bahwa trofi Euro 2020 membuktikan kemampuan Mancini di panggung internasional. Pelatih berusia 59 tahun itu juga sukses membawa Inter Milan meraih tiga gelar Serie A dan empat Coppa Italia selama karier klubnya.
Meski catatan Mancini di level klub dan negara terbilang gemilang—termasuk membawa Manchester City juara Premier League 2012 dan Galatasaray merebut Piala Turki—kegagalan di play-off kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Makedonia Utara menjadi catatan kelam. Hal ini memicu keraguan apakah Mancini masih cocok untuk era baru sepak bola Italia yang membutuhkan regenerasi pemain dan taktik modern. Namun Fabregas yakin mentalitas juara Mancini akan menjadi aset berharga.
Bersamaan dengan pengumuman Mancini, FIGC juga menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis baru Club Italia. Langkah ini menunjukkan federasi ingin mengkombinasikan pengalaman dua pelatih senior untuk membangun kembali fondasi tim nasional. Ranieri, yang dikenal membawa Leicester City juara Premier League 2016, diharapkan dapat membantu pengembangan pemain muda dan sinergi dengan klub-klub Serie A.
Bagi pencinta sepak bola di Indonesia, kisah Mancini bisa menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Italia memiliki basis penggemar kuat di Tanah Air, dan gaya kepelatihan Mancini yang mengedepankan pressing dan penguasaan bola kerap menjadi referensi. Namun, apakah kembalinya figur lama dapat menyelesaikan masalah struktural yang dihadapi Italia? Regenerasi pemain dan adaptasi terhadap tren sepak bola modern masih menjadi pekerjaan rumah besar yang menanti Mancini dan Ranieri.
Dengan pengalaman dan deretan trofi yang dimiliki, Mancini jelas bukan nama asing. Pertanyaan besarnya kini: apakah ia mampu mengulang kesuksesan seperti di Euro 2020, atau justru kembali terjerembap dalam kegagalan seperti tiga tahun lalu? Keputusan ini setidaknya menunjukkan bahwa FIGC masih percaya pada pendekatan konvensional ketimbang perubahan radikal.



