Tiga Menu Wajib Prabowo: Kopi Hambalang, Bakso, dan Nasi Bakar, dari Istana hingga Pesawat Kepresidenan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memiliki tiga menu andalan yang selalu hadir di meja makannya: Kopi Hambalang, bakso, dan nasi bakar, bahkan saat penerbangan kenegaraan.
- Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan mengungkapkan bahwa menu tersebut disiapkan oleh chef Garuda Indonesia yang membawa bahan baku dari Tanah Air, termasuk daun pembungkus nasi bakar.
- Di balik kesederhanaan menu, setiap sesi makan bersama Prabowo selalu diisi falsafah Jawa yang menjadi pedoman kepemimpinannya, seperti 'becik ketitik ala ketara' dan 'ing ngarsa sung tulada'.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260694/original/056328800_1781623053-WhatsApp_Image_2026-06-16_at_22.07.43.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto dikenal bukanlah pemimpin yang gemar bersantap mewah. Namun, ada tiga hidangan yang tak pernah absen dari meja makannya, baik di Istana Negara maupun di dalam pesawat kepresidenan saat melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, membocorkan menu rutin tersebut: Kopi Hambalang, bakso, dan nasi bakar.
Dalam keterangan tertulisnya, Dirgayuza—yang akrab disapa Yuza—menuturkan bahwa ketiga menu itu bukan sekadar favorit pribadi, melainkan telah menjadi tradisi yang dijaga ketat oleh tim dukungan Presiden. Bahkan, saat Prabowo melakukan penerbangan jarak jauh, tim chef Garuda Indonesia selalu menyiapkan bakso dan nasi bakar di atas pesawat. Chef Yudi Mulyadi, koki asal Cimahpar, Bogor yang telah bergabung dengan Garuda Indonesia sejak 2012, menjadi salah satu andalan dalam misi kuliner ini.
"Untuk penerbangan jarak jauh, Chef Yudi dan tim seringkali harus memasak bakso dan nasi bakar di pesawat saat sedang terbang. Kalau ada bahan yang kurang, kita tidak bisa tiba-tiba beli bahan di warung," ujar Yuza dengan nada bercanda. Ia mencontohkan, daun pembungkus nasi bakar tidak boleh sembarangan; Chef Yudi harus membawa daun yang tepat dan dalam jumlah cukup dari Indonesia. Karena lidah orang Indonesia yang khas, hampir seluruh bahan masakan baku harus dibawa dari Tanah Air. "Fun fact, di setiap penerbangan jarak jauh Presiden, area crew rest tidak dipakai untuk istirahat karena dipakai untuk menyimpan sembako," tambahnya.
Namun, di luar ketiga hidangan tersebut, ada satu "menu" lain yang selalu hadir dalam setiap sesi makan bersama Presiden Prabowo. Menu itu tidak tercantum di buku menu atau terlihat di meja makan, melainkan berupa wejangan dan falsafah hidup yang diwariskan oleh kakek Prabowo, R.M. Margono Djojohadikusumo—pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan anggota BPUPKI. "Dari beliau, dan dari guru-guru yang ditemuinya sepanjang hidup, Presiden Prabowo menyerap banyak falsafah Jawa yang kemudian menjadi fondasi cara berpikirnya, dan fondasi caranya membuat keputusan. Hampir tidak ada sesi makan bersama yang saya lalui bersama Presiden Prabowo tanpa pulang membawa pelajaran baru," kenang Yuza.
Salah satu falsafah yang paling sering diulang adalah becik ketitik ala ketara: yang baik akan terlihat, yang buruk akan terungkap. Menurut Yuza, saat menghadapi fitnah atau tuduhan yang tidak benar, Presiden sering mengingatkan bahwa kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri, walau tidak cepat apalagi instan. Prinsip lain yang kerap disampaikan adalah sabdo pandito ratu, yang berarti ucapan seorang pemimpin adalah janji. Karena itu, Prabowo selalu mengingatkan untuk berhati-hati dengan janji-janji yang disampaikan kepada publik.
"Prinsip berikutnya adalah rame ing gawe, sepi ing pamrih atau banyaklah bekerja, sedikitlah menuntut imbalan. Mungkin inilah salah satu prinsip yang paling sering saya dengar darinya. Fokuslah pada pekerjaan, bukan pada mendapatkan pujian," pesan Yuza.
Dalam soal kepemimpinan, Yuza menegaskan tidak ada ajaran yang lebih sering dikutip Prabowo daripada ing ngarsa sung tulada, yang berarti pemimpin harus di depan memberi teladan. "Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah. Ia harus menjadi contoh," tegasnya. Tentang kekayaan, Prabowo sering mengingatkan sugih tanpo bondo—kaya tanpa harta—karena kekayaan sejati terletak pada nilai, prinsip, kehormatan, dan pengabdian. Dalam perjuangan politik, ia memegang teguh menang tanpo ngasorake, yaitu kemenangan yang terbaik adalah yang tetap menjaga martabat semua pihak.
Pada akhirnya, kuliah kepemimpinan di meja makan Presiden selalu bermuara pada satu ukuran sederhana yang sering dikutip dari Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: yen wong cilik iso gumuyu—jika rakyat kecil bisa tersenyum, berarti kita berada di jalan yang benar. Bagi masyarakat Indonesia, kisah ini bukan sekadar soal selera makan seorang presiden, melainkan cerminan gaya kepemimpinan yang dekat dengan nilai-nilai lokal dan kesederhanaan. Pertanyaannya, apakah prinsip-prinsip ini akan benar-benar tercermin dalam kebijakan-kebijakan pemerintah ke depan?



